Malam yang dingin. Aku duduk bersila diantara rerumputan
basah, bertemankan beberapa serangga yang lemah. Kutatapi langit yang mendung
itu, mencari cari kenangan yang hilang dari otakku. Sesekali gerimis turun,
menitikkan kerinduan pada jiwaku.
Semakin larut malam, semakin mata ini terasa berat. Rasa
kantuk tak tertahan tiba tiba melandaku. Namun rasa itu terbuyarkan oleh
gerimis yang kembali membawa berjuta rindu. Semakin menyiksaku.
Oh, kasih. Entah, mengapa rindu ini begitu menyayat kalbuku.
Seperti kobaran api yang semakin membara kala hujan membasahinya. Aku mencoba
menjauh dari bayangmu, setidaknya untuk mengurangi penderitaanku. Ya, ternyata
aku telah salah melangkah. Rindu itu makin menggila, memeluk erat ragaku.
Hingga aku pun tak mengerti harus kuapakan rasa ini. Lantas, kuserahkan jiwaku
sepenuhnya, pada malam yang membunuhku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar