Rabu, 28 Oktober 2015

Aku Jatuh (Lagi)

Ketika segala hal menjadi gelap dan kelabu. Ketika kupikir, cahaya tak lagi menyenangkan. Ketika semakin kuselami kegelapan perasaanku. Ketika aku makin tenggelam dalam sedih dan duka. Ketika itu, kamu datang, tepat waktu.

Aku ingat ketika kita pertama kali satu kelas. Kamu datang, mengambil kursi di depan, diam di tempatmu, dan mengabaikan segala omong kosong di sekitarmu. Tapi aku (sudah) benar-benar jatuh teramat cinta,

Kamu cerewet, ribet, dan kamu ceroboh, amat ceroboh. Kamu suka mengatur dan aku suka melihatmu dengan semua itu. Perempuan berkacamata dengan segala hal yang rumit tentangnya. Ah, lagi-lagi aku suka. Aku jatuh (lagi), akhirnya.

Pada gerakmu yang memesona. Pada senyummu yang kelewat indah. Pada binar yang ada pada kedua matamu (bahkan dengan kacamatamu, kamu tak mampu menyembunyikannya dariku). Betapa aku mendamba pada segalamu, nona.

Jangan bertanya kenapa aku bisa jatuh dan secinta ini, nona. Aku sendiri tak tahu dan tak ingin tahu. Kamu memang tak melakukan apapun. Aku juga tak melakukan apapun. Ketika itu, aku hanya jatuh. Dan aku memang suka terjatuh, maklumi saja. Aku menikmati jatuhku dan mencintaimu sedalam ini. Ah, sepertinya ini sudah tak pantas disebut jatuh. Sepertinya aku sudah terjun bebas kali ini.