Lihatlah, betapa malam tak pernah membiarkanku terlelap tanpa mengingat nyala pijarmu.
Aku jenuh, aku bosan.
Aku ingin melupa, tentang warna apa yang sebenarnya tersimpan dalam nyala itu.
Aku teramat ingin tau, seperti apa rasanya mengingat-ingat kembali.
Ah, sepertinya melupa itu indah.
Sayanganya, sayang sekali, nona.
Justru warna-warna itu yang memaksaku untuk tak jadi pelupa
Ya, mereka, si merah, oranye, jingga dan komplotannya.
Kamu tau? mereka hanya membuatku makin rindu pada senja dalam pelupuk matamu.
Tampaknya mereka juga sedang melupa.
Bahwa sebaik-baiknya pengingat adalah seorang pelupa.
Bukan begitu, nona?
Sudahlah, ini memang terlalu larut untuk menjadi pelupa.
Selamat berlelap, nona.
Jangan lupa untuk melupakanku, esok hari, dan hari-hari setelahnya yang bahkan kamu sendiri pun lupa.
Selamat melupa!
Aku jenuh, aku bosan.
Aku ingin melupa, tentang warna apa yang sebenarnya tersimpan dalam nyala itu.
Aku teramat ingin tau, seperti apa rasanya mengingat-ingat kembali.
Ah, sepertinya melupa itu indah.
Sayanganya, sayang sekali, nona.
Justru warna-warna itu yang memaksaku untuk tak jadi pelupa
Ya, mereka, si merah, oranye, jingga dan komplotannya.
Kamu tau? mereka hanya membuatku makin rindu pada senja dalam pelupuk matamu.
Tampaknya mereka juga sedang melupa.
Bahwa sebaik-baiknya pengingat adalah seorang pelupa.
Bukan begitu, nona?
Sudahlah, ini memang terlalu larut untuk menjadi pelupa.
Selamat berlelap, nona.
Jangan lupa untuk melupakanku, esok hari, dan hari-hari setelahnya yang bahkan kamu sendiri pun lupa.
Selamat melupa!