Hujan telah lama berlalu.
Namun bekasnya masih begitu nampak.
Tanah, dedaunan, rerumputan, juga atap-atap rumah yang masih
basah.
Sesekali embun menyeringai di balik kaca jendela rumahku.
Genangan air di jalanan berlubang juga masih menggenang.
Mungkin itulah yang kurasa.
Kepergianmu bagaikan hujan yang membasahi ingatanku.
Masih kuingat jelas, canda dan tawamu, paras elokmu, rambut
indahmu.
Bahkan lambaian tanganmu kala kau pergi masih teringat
jelas, menemani ditiap puisiku.
Entah apa yang kutunggu.
Entah apa yang kuharapkan.
Mungkin aku hanya menunggu dan berharap matahari segera
datang mengeringkan semua ingantan itu.
Ah. Sudahlah, aku tak tau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar