Rabu, 19 Februari 2014

Tanpa Judul



Kurebahkan diriku
Sedikit meregangkan otot tubuhku yg mulai kaku
Terkadang sunyi datang membawa kedamaian, didalam kamar kecil ini

Dalam damai: jiwaku terbang melintasi waktu
Mencari jejakmu yg telah lama berlalu

Aku mencari, diantara dedauan yg digugurkan oleh musim.
Mereka menatapku dg perasaan iba.
Seakan akan mereka tahu kegundahanku.

Angin menuntunku melintasi bekas langkahmu.
Lalu aku berhenti, menyesal, dan menangis.
Kala kutemukan kebencian di tiap jejakmu.

Bunga Lukaku



Ayam-ayam itu berkokok, saling menyahut berirama, mengira mereka berada dalam pagi.
Begitu bodohnya, mereka menikmati itu, diwaktu siang.
Mereka lupa, ini hanya bekas hujan.        
Dan mentari hanya belum mau menyinari.
Lucu kurasa, aku tertawa.

Tak jauh beda denganku.
Aku tetap saja menulis puisiku, menikmati lukaku, seakan ini adalah luka yang tak kan pernah sembuh.
Aku lupa, ini hanya bekas kepergianmu.
Dan hanya belum ada, seseorang yang mampu menggantikanmu, serta menghapus semua sakit yang kurasa.
Tapi, aku semakin tak mengerti, aku justru berharap seseorang itu tak pernah ada.
Jadi, tak akan ada yang bisa menggantikanmu.
Juga tak perlu kau hapus rasa sakitku.
Biarlah itu menjadi bunga yang bermekaran dalam puisiku: selamanya.

Takdir Duka



Ada saat dimana kita dituntut hanya untuk menerima.
Tanpa bisa untuk memilih.
Seperti aku menerima kenyataan, bahwa kamu tidak jatuh cinta kepadaku, tapi kepadanya: sahabatku.
Ya, andai aku bisa memilih.
Aku akan memilih untuk tak pernah mengenalnya, juga mengenalmu.
Agar aku tak pernah jatuh cinta padamu.
Juga agar aku tak harus menelan kenyataan pahit seperti itu.
Seperti yang kamu tahu, aku tidak diberikan kesempatan untuk memilih.
Namun, ada satu kehendak, yang bisa kuterima dengan lapang dada.
Mungkin aku memang sudah digariskan, untuk menulis segala duka yang kamu sayatkan.
Untuk mewarnai segala kesedihan yang kamu lukis.
Untuk menghujani segala sendu yang kamu tiupi dengan angin kemarau.
Maka, aku menerimanya, dengan mata tertutup dan hati yang terbuka: selalu, kepadamu.

Kamulah yang di Dongengkan



Apakah kamu bidadari?
Ya, tentu saja tidak.
Karena kamu jauh lebih indah.
Meski tak pernah sekalipun aku menemukan bidadari itu.
Namun aku menemukanmu.
Aku mulai menyadari, bidadari hanyalah sebuah dongeng, dan kamulah satu-satunya yang nyata.
Mungkin, yang tertulis dalam tiap dongeng itu, adalah dirimu, yang pesonanya dipuja sedari dulu.
Mungkin.

Karena ditiap kehadiranmu.
Selalu mampu menyilaukan mataku.
Aku jadi tahu.
Aku tak perlu lagi mencari kebenaran dongeng bidadari.
Aku tak peduli dengan semua omong kosong itu.
Ya, kamulah satu-satunya yang aku pedulikan.
Jadi, biarkanlah aku menggambar segala keindahanmu dalam tiap sajakku.
Agar kau tahu, juga semua orang, bahwa kamulah yang mereka sebut bidadari itu.
Meskipun kutahu, aku tak akan pernah mampu.
Karena keindahanmu adalah semesta yang menyatu.

Manusia Bodoh


Saat musim kemarau, kudengar banyak orang bertanya "Tuhan, segeralah tutup kemarau panjang ini, apa salah kami hingga Kau keringkan tanah dan ladang hidup kami?". Lantas waktu berlalu, kemarau pun berlalu. Dan saat musim hujan, kudengar lagi mereka bertanya "Tuhan, apa salah kami hingga Kau buat banjir terus  menggenangi rumah kami, jalan kami, serta hidup kami?". Di tanah yang lain, aku juga mendengar pertanyaan "Tuhan, apa salah kami hingga Kau tega memberikan tsunami dan letusan gunung api yang bertubi-tubi?".

Aku berfikir di dalam tawa. Ya, memang seperti itulah manusia. Takdir memang telah ditulis, namun ada beberapa takdir yang bisa saja berubah. Lihatlah mereka, seakan-akan selalu menyalahkan Tuhannya atas apa yang telah terjadi. Mereka meminta, namun menyiakannya. Mereka hanya bertanya apa salah mereka, tanpa pernah merasa bersalah. Mereka bermaksiat, merusak alam, mencuri, korupsi, bahkan ada pula yang membunuh. Mereka begitu bodoh untuk menyadari, bahwa kemarau panjang adalah seruan bagi kita untuk memperbanyak istighfar dan do'a kepada-Nya. Bahwa banjir adalah seruan bagi kita untuk menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga kesehatan lingkungan. Bahwa tsunami dan gunung meletus hanya seruan bagi kita untuk menghentikan maksiat kita, dan untuk tidak pernah sesekali melupakan ke-Agungan-Nya.

Manusia hanya terlalu bodoh. Untuk melihat dan menyadari itu semua.
Karena aku juga manusia, aku juga mereka.
Maka maafkanlah hamba, Tuhan.
Juga mereka, para manusia.

Hujan dan Kepergianmu


Hujan telah lama berlalu.
Namun bekasnya masih begitu nampak.
Tanah, dedaunan, rerumputan, juga atap-atap rumah yang masih basah.
Sesekali embun menyeringai di balik kaca jendela rumahku.
Genangan air di jalanan berlubang juga masih menggenang.

Mungkin itulah yang kurasa.
Kepergianmu bagaikan hujan yang membasahi ingatanku.
Masih kuingat jelas, canda dan tawamu, paras elokmu, rambut indahmu.
Bahkan lambaian tanganmu kala kau pergi masih teringat jelas, menemani ditiap puisiku.
Entah apa yang kutunggu.
Entah apa yang kuharapkan.
Mungkin aku hanya menunggu dan berharap matahari segera datang mengeringkan semua ingantan itu.
Ah. Sudahlah, aku tak tau.