Jumat, 08 Mei 2015

Bajingan

03:26 di tempatku. Belum juga satu pun kantuk menjemputku menuju lelap. Pun hanya untuk menyapa mereka tak sudi. Kopi hanya semakin meracuni. Tak ada lagi udara segar, asap rokok mengepul memenuhi seisi ruangan. Aku terbatuk berat menahan kenangan yang mencoba masuk ke dalam rongga dada. Tersesak oleh asap, disesaki oleh kenangan. Barangkali aku butuh lebih banyak kopi, lebih banyak nikotin dan lebih banyak kenangan.
Oh, nona. Sesekali aku ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kenangan-kenangan yang salah tentang kita. Sesekali aku ingin kembali ke masa lalu hanya untuk menghapusmu dari jalan cerita. Dan seringkali, aku ingin pulang dan kembali pada pelukmu yang menghangatkan.
Nona, barangkali kita perlu duduk dan banyak bicara (lagi). Aku dengan kopiku dan kamu dengan teh hijaumu itu. Atau barangkali kamu ingin coklat panas? atau kopi susu di kafe yang pelayan wanitanya pernah kamu cemburui itu? Kamu juga boleh memesan ketiganya. Aku tak peduli. Aku hanya peduli pada kata di antara kita. Aku ingin (kembali) melihatmu banyak bicara (lagi).
Mari bercerita tentang banyak hal yang kamu suka. Ceritakan padaku tentang hujan yang mengguyur basah baju merah jambu yang aku hadiahkan di hari ketika aku salah mengira hari ulang tahunmu. Lalu ceritakanlah padaku tentang perkenalanmu dengan jarak. Tentang banyak sekali rindu yang kamu temui di perjalanan menuju pulang. Mari kita kembali menatap bintang. Berdua saja. Mari kita kembali saling menemukan. Kembali.
Kamu pernah menjadi senja, nona. Menenggelamkan semuanya. Yang tersisa hanya gelap. Yang tersisa hanya harum kehampaan.
Kamu pernah menjadi gelap. Teramat gelap. Kamu obrak-abrik segala terang. Dan semuanya semakin gelap. Yang tersisa hanya remang. Yang tersisa hanya bayangmu di kejauhan.
04:07 di tempat yang sama. Aku tetap terjaga sepanjang malam, setiap malam. Dan kenangan tetap dijaga oleh malam, seluruh malam. Kini malam jadi kenangan. Dan sedihnya, kenangan tak lagi milik malam. Malam telah berbagi kenangan pada pagi. Pada daun gugur ketika siang datang. Pada senja ketika sore menjelang.
Hingga akhirnya, tak ada lagi yang bisa dibagikan tentang kenangan. Mereka sudah teramat saling mengenal. Dan mereka sudah jadi kenangan.

Bicara soal kenangan, aku punya kenangan yang ingin kuceritakan. Barangkali sudah aku ceritakan? Sudahlah. Lagipula semua itu hanyalah kenangan. Ya, kenangan. Bajingan.