Kamis, 08 Mei 2014

Apa Ini Memang Malam?

Selamat malam, hati yang tak lagi menjadi tempat paling teduh.
Selamat malam, rindu yang tak lagi menggebu-gebu.
Selamat malam, kau yang mulai terlupakan.
Selamat malam, malam yang jadi semakin kelam.
Tunggu dulu, apakah ini memang sudah malam?
Atau hanya mataku yang tak lagi mampu melihat terang semenjak pijarmu telah pergi?
Entahlah, aku tak mampu mengerti, bahkan dalam otakku pun terlalu petang untuk mencari jawaban.
Aku tak mampu membedakan, antara siang dan malam, antara terang dan petang, pun antara kau dan bayangmu yang masih saja berada di sini.
Sesaat lalu, aku melihatmu terbang, pergi membawa pijar yang pernah kau nyalakan dalam diriku.
Namun, entah mengapa tak kau bawa juga bayangmu ini, biar aku dapat lekas melupakanmu.
Atau memang kau sengaja meninggalkannya? Agar aku tak dapat melupakanmu?
Atau ini hanya karena aku yang terlalu tak bisa menerima kepergianmu?
Sudahlah, aku yakin kau tak kan mampu menjawabnya.
Karena aku telah bertanya pada segala yang ada, pada tanah yang dibasahi hujan, pada daun yang diterbangkan angin, pada malam yang melintang, pun pada bayang yang kau tinggalkan.
Tak satupun dari mereka mampu menjawab.
Atau mereka telah menjawabnya? Hanya saja aku terlalu tuli untuk dapat mendengarnya? Ya, bisa saja. Semenjak kau tak ada, aku tak mampu lagi mendengar suara-suara indah hujan, kicauan burung-burung, juga hembusan angin. Aku hanya dapat mendengar elegi rintihan malam, mencabik telingaku dalam-dalam.
Terlalu banyak hal yang berubah semenjak kau pergi.
Aku tak mampu menuliskannya satu persatu.
Aku tak mampu mengingatnya pasti.
Semuanya bagiku, juga hanya terasa hambar.
Aku merasa tak lagi ada, mungkin seperti mati. Ya.
Ketahuilah, pergimu itu matiku.
Aku selalu menunggu, waktu untuk aku dihidupkamd kembali.
Entah olehmu, atau oleh pijar yang lain.
Aku akan menunggu seperti pelangi yang setia menunggu hujan reda.
Aku yakin waktu itu pasti ada, maka aku menunggu, selamanya. Mungkin terlalu lama, namun tak apa. Biar saja.

Minggu, 04 Mei 2014

Kita, Aku, dan Kamu

Malam masih belum begitu larut. Namun aku sudah terlalu larut dalam kesedihanku.
Tak ada lagi yang mampu mengerti.
Tak ada lagi yang perlu dibagi. Selain pada Tuhan, juga pada secangkir kopi.
Dari ketanpaanmu, dan dari kesenderianku. Kutemukan persamaan antara air dan api. Keduanya jadi terasa sama, hanya hambar.
Kutemukan juga persamaan antara hitam dan putih. Keduanya jadi sama kelabunya di mataku.
Dari pergumulanku dengan Tuhan, merah senja, sunyi malam, dan secangkir kopi. Juga bayangmu yang seringkali menyeringai di balik hujan. Banyak ilusi yang akhirnyaterungkap. Aku jadi mengerti bahwa 'Kita' sebenarnya tak pernah ada. Selama ini 'Kita' nampak begitu dekat. Namun sebenarnya 'Kita' tak pernah sedekat itu. Ada sebuah kamuflase di sana. Ilusi telah dimainkan, dan 'Kita' telah terperangkap. Mungkin lebih tepat jika aku menyebutnya, bahwa 'Aku' lah yang terperangkap. Karena sekali saja 'Kamu' tak pernah berada di sana.
Sama sekali tak pernah ada. 'Kamu' lah yang dimainkan ilusi. Mungkin juga, 'Kamu' lah ilusi itu sendiri. Mungkin saja. Iya, mungkin.