Senin, 24 Maret 2014

Semoga Tidak Kamu Lagi

Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia.
Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia. Melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu. Itu menyakitkan, seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk. Supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan. Sehingga doa dapat melahirkan semangat, dan kemudian buatku bangkit. Namun ketahuilah sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu. Ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu mengelilingi tubuhku, dan jantungku berdenting demi kau, menari-nari di pikiranku.
Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku. Itu karena aku mampu terima kamu apa adanya. Aku meminta ampun kepada Tuhan. Sebab aku pernah berharap kalau suatu saat. Ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu. Aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi. Sebab hidup  jadi terasa bagaikan dinding yang dingin. Aku harus menjadi paku. Sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya. Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat. Pada akhirnya, semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat. Sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas. Semoga tidak kamu lagi.

Karya: Zarry Hendrik

Aku Berhenti

Karena aku sudah tak mampu lagi untuk berdiri. Ada baiknya aku berhenti, memohon ampun, dan tak lupa berterima kasih.
Aku berhenti untuk mengejarmu.
Aku berhenti untuk menjaga rasa ini.
Bukan aku melepasmu.
Karna aku menyadari, bahwa sebenarnya aku tak pernah dapat menggenggammu dihari-hari sebelumnya.
Andai aku mampu, aku ingin sekali untuk menangis. Namun tak setetes air mata pun dapat aku jatuhkan ke dasar hatimu supaya ia tak lagi bergeming. Aku tahu bahwa aku butuh lebih dari sekedar tangis bercucur darah, sebening embun, dan sepekat malam, untuk aku dapat menerima kenyataan ini. Aku juga tahu bahwa aku butuh lebih dari sekedar cinta untuk meluluhkan hatimu. Mungkin aku butuh seisi dunia ini untuk membuatmu mengerti. Bahwa aku pernah memiliki rasa sedalam ini, segila ini, dan semenyiksa ini. Bahwa pernah aku mencintaimu. Namun Tuhan tak memberiku itu. Sepertinya Ia tak mau membantu. Sedang aku sudah terlalu takut akan menjadi bangkai di dalam hatimu. Meninggalkan bau anyir lalu lenyap dan dilupakan begitu saja, karna aku tak memiliki sisa belulang supaya kau dapat mengingatku. Sebab keseluruhan tulangku telah remuk dalam perjalanan ini. Perjalanan tak berujung untuk mencari gerbang hatimu yang sepertinya hanya ilusi. Maka aku memilih untuk berhenti. Dan belajar untuk mengikhlaskan apa yang bukan milikku. Juga mencoba untuk menerima, meski sebenarnya hatiku lebih tak menerima untuk aku melakukan ini. Tapi aku begitu memaksa. Karna hanya itu yang aku bisa.

Kamis, 20 Maret 2014

Dealova

Aku mencintai segala keindahanmu.
Begitu pula aku mencintai segala kekuranganmu.
Orang menyebut itu sebuah ketulusan.
Aku menyebutnya sebuah kebutaan.
Karena aku memandang kekuranganmu sebagai sebuah keindahan.
Sejujurnya, aku sama sekali tak menemukan adanya kekurangan pada dirimu.
Sepertinya, aku telah dibutakan.

Selama ini, aku memberi yang aku ada.
Dan berbuat yang aku bisa.
Dan telah lama aku menghambakan diri pada kecantikanmu.
Selayaknya seorang budak.
Aku tak mengharapkan apa - apa selain cintamu.
Meski aku tahu bahwa tak mungkin kau akan memberikan cintamu itu.

Lalu, aku bercerita perihal rindu pada sang waktu.
Aku bagai sebuah muara, dan kau adalah laut, sedang rindu adalah air.
Aku adalah apa yang dialiri rindu, dan kau adalah tujuan dari segala rinduku.
Dia tertawa, aku ikut tertawa, lebih keras.
Mungkin dia pikir aku gila.
Tapi jika aku memang benar telah gila.
Kamu adalah salah satu dari penyebabnya.

Beberapa waktu lalu, kau berbicara perihal ketulusan padaku.
Sedang aku sendiri, masih tak tahu menahu tentang hal itu.
Tentang apa itu, tentang bagaimana seseorang bisa dikatakan tulus.
Selama ini aku selalu tersesat, saat mencoba mencari tahu arti dari sebuah ketulusan.
Aku telah disesatkan, oleh rindu dan segala sendu yang mengikutinya.
Tapi ada satu hal yang kutahu pasti. Bahwa.
Selama ini, aku mencintaimu.
Hanya itu? Ya hanya itu yang aku tahu.

Rabu, 19 Maret 2014

Keteraturan

Aku telah banyak belajar mendengar, agar aku bisa menjadi tempat terbaik bagi keluh kesahmu.
Hingga membuatku lupa, bagaimana untuk bercerita.
Kamu telah banyak bercerita, namun kamu lupa untuk belajar mendengar.
Aku mendengarmu dengan sangat jelas, namun kamu tak mampu mendengar yang sama denganku.
Aku pikir itu sebuah keteraturan alam.
Ternyata aku salah memahami konsep keteraturan.
Kita hanya saling melengkapi di satu, tak di semua, sisi.
Aku tak berhenti, aku tak menyerah.
Satu-satunya hal yang masih bisa ku ingat jelas ialah menulis.
Maka aku menulis puisi - puisi ini.
Agar aku bisa bercerita segala rasaku, juga agar kamu bisa membacanya, lalu mengerti maksudnya, tanpa harus mendengar.
Tak cukup susah kan?

Jumat, 14 Maret 2014

Semoga

Aku menghabiskan waktu senja ini dengan beberapa batang rokok. Yang makin lama makin terasa sesak saat kuhisap. Entah ini hanya aku yang terlalu menikmati luka, atau jantungku memang sudah terlalu sesak dengan semua luka ini. Diwaktu yang lalu, aku pernah hidup dalam indahnya sebuah rasa. Aku juga pernah hidup dalam manisnya sebuah pengorbanan. Begitulah cinta, datang membawa sejuta rasa indah. Lalu pergi meninggalkan luka pada tempat yang pernah disinggahinya. Waktu sudah berjalan begitu lama sejak cinta pergi. Namun luka yang ditinggalkannya masih berdiam didasar hatiku. Menusuk lebih dalam.
Aku mohon ampun kepada Tuhan. Karena dulu aku pernah hidup dengan memenuhi hati dan pikiranku dengan bayangmu. Hingga membuatku lupa pada semua kebaikan-Nya. Sepertinya Tuhan hanya mengujiku dengan kehadiranmu. Aku pernah mendengar orang berkata, bahwa Tuhan tidak akan menguji hambanya diluar kemampuan hamba tersebut. Dulu, dulu sekali, aku sangat percaya pada hal itu. Berbeda dengan kali ini, aku menyerah. Aku sudah berusaha melangkah sejauh yang aku mampu. Sampai kakiku sudah tak sanggup lagi untuk berdiri, namun masih belum kulihat akhir dari jalan ini.

Aku benci untuk mengakui semua ini, bahwa aku pernah mencintaimu. Bahwa aku pernah bingung untuk bagaimana memulai percakapan denganmu. Bahwa aku pernah bercucur keringat dipenuhi rasa cemas menunggu balasan chattingmu sambil berpikir keras untuk topik apa yang akan aku bicarakan denganmu selanjutnya. Bahwa aku pernah selalu memikirkanmu kapanpun dan dimanapun aku berada. Bahwa aku juga pernah berminggu-minggu selalu memimpikanmu. Bahwa aku juga pernah serasa hampir mati karena rindu terlalu mencekik aku. Aku benci mengakui itu semua. Tapi, sampai detik yang baru saja berlalu, aku masih begitu mengharapkan cinta darimu.

Sejak pertama kali aku merasakan getaran rasa ini, sedikitpun aku tak pernah mampu untuk mengerti. Untuk mengerti mengapa aku harus mencintaimu? Mengapa tidak kepada yang lain saja? Mengapa harus ada rindu jika setelahnya hanya ada sendu? Aku masih tak mengerti.

Aku bagaikan rumput, dan kamu adalah api, sedang cinta adalah hujannya. Jadi disaat kamu membakar habis seluruh diriku, bahkan rasaku. Cinta menghujaniku dan membuat rasa ini tumbuh kembali, menjadi lebih lebat dan lebih hijau. Begitulah seterusnya yang selama ini kurasakan. Semoga saja semua ini segera berakhir. Semoga.

Senin, 10 Maret 2014

Ya, Setidaknya

Aku belum pernah mengenal cinta.
Namun aku pernah mengenalmu.
Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.
Karena dengan mengenalmu, aku jadi mengenal segala hal.
Tentang perihal rasa, luka, rindu, sendu, kesabaran, perjuangan, juga perihal kehidupan ini.
Setidaknya, aku pernah mengenal yang lebih dari cinta.

Hidupku juga belum pernah berwarna karena bahagia atas cinta.
Maka aku membiarkan luka mewarnainya.
Meski luka berwarna jauh lebih gelap dari langit malam tanpa bulan dan bintang.
Setidaknya hidupku pernah memiliki warna.

Minggu, 09 Maret 2014

Terlalu Lelah

Aku lelah, teramat lelah.
Aku lelah untuk percaya bahwa cinta adalah perihal yang indah.
Aku lelah menunggu waktu untuk melihat semuanya indah pada waktunya.
Aku lelah untuk terus mengharapkan rasa indah kan hadir untukku.
Aku lelah untuk terus hidup dengan rasa yang menusukku secara membabi buta.
Aku lelah terus menyakiti perasaanku sendiri atas tiap langkah yang kuambil.
Aku ingin berhenti.
Berhenti mencintaimu, berhenti untuk mengenal cinta, dan berhenti untuk menulis puisi.
Aku ingin menyerah pada perasaan ini.
Aku terlalu lemah di hadapan cinta.
Aku ingin membenci cinta ini; cintamu, namun aku tidak cukup tangguh untuk itu.
Aku ingin melepasmu sepenuhnya, tapi aku tak mampu.
Karena jauh didalam hatiku, aku takut sendirian.
Aku terlalu takut untuk hidup tanpa cinta, tanpa puisi, juga tanpamu.
Tapi, aku sudah teramat lelah.

Sabtu, 08 Maret 2014

Semilir Kerinduan

Semilir angin yang biasa menerpaku tak lagi kurasakan.
Semuanya serasa hampa.
Cangkir kopi didepanku mulai mengembun.
Kunikmati sunyi ini dengan rokok yang mengepulkan gumpalan asap, perih dimata, mengaburkan fikiranku.
Aku masih terpaku, di antara lalu lalang orang, di atas kursi tak bertuan.
Perlahan, rasa rindu menyeruak di dalam dadaku.
Rindu yang begitu menggebu, membakar habis hatiku, namun tak menjadikannya abu.
Aku menatap gelas kaca kopiku.
tak kutemukan apapun, selain wajahmu.
Oh kasih, aku rindu ingin bertemu.
Adakah rasa rindumu untukku?
Entahlah, aku tak tau.

Sebuah Pagi Untukmu

Ini adalah pagi.
Matahari telah mulai meninggi.
Beberapa embun masih bersandar pada dedaunan.
Beberapa yang lain menyandarkan dirinya pada rerumputan.
Tiap butirnya memantulkan cahaya keemasan mentari.
Sungguh indah, mereka berlaga layaknya bintang dilangit malam.
Burung-burung pun juga tak henti-hentinya berkiau.
Tiap kicauannya membawa sejuta kedamaian.
Namun, semua itu hanya membuatku makin gelisah.
Aku takut tak mampu membuatkanmu puisi dipagi seindah ini.