kuhisap dalam-dalam asap rokok ini.
merasuk: memeluk paru-paruku begitu erat.
begitu dalam, hingga aku tak tau.
hanya sesak yang kurasakan.
aku menggerutu, menahan pilu.
pilu yang begitu sendu.
sebuah elegi terdengar dari balik awan hitam.
begitu merdu merangkul malam.
kutatap lampu di atap.
dia selalu menerangi malamku.
meskipun yang kuhiraukan hanyalah bulan.
tak pernah dia merasa iri.
aku manusia, dan dia hanyalah benda.
namun aku tak lebih mulia darinya.
membuatku merasa jadi seonggok daging yang tak berguna.
pandanganku kabur, lantas kututup mata ini.
sesosok bayangan tiba-tiba hadir.
tersenyum, mencoba membelaiku.
aku hanya terpaku, melihat keindahannya.
perlahan kucoba membuka mata.
diringi pudarnya sosok itu.
dia menghilang, kala mata ini terbuka sempurna.
ya, dia hadir dan pergi lagi untuk kesekian kalinya.
walau aku belum sempat bertanya.
Jumat, 24 Januari 2014
Sabtu, 18 Januari 2014
Rahmat
Selamat malam, kekasih.
Ini malam yg indah bukan?
Tanpa bulan dan tanpa bintang.
Hanya sosokmu yg kulihat.
Menari-nari layaknya bidadari.
Mendung itu seakan menyerah.
Ia tak mampu menyelimuti cahaya yg kau
pancarkan, dalam kegelapannya.
Membuatnya perlahan meneteskan air mata,
pada tanah cinta kita berpijak.
Orang-orang menyebutnya hujan.
Tidak denganku, aku sebut itu rahmat.
Saat ia datang, menghujani taman cinta
kita, menumbuhkan bunga-bunga nan elok.
Juga kutemukan bayangmu yg begitu
menyejukkan.
Serta puisi-puisi yg selalu datang
menjelma, di tiap tetesnya.
Hanya Secangkir Kopi
Desiran
daun-daun itu menyadarkanku.
Sesaat
tadi aku sempat terbuai oleh sunyinya malam.
Terbawa
oleh indahnya lampu temaram.
Merangkak
jauh di dalam lamunan.
Taman
ini terasa begitu sepi.
Entah,
ini hanya godaan malam.
Atau
memang aku yg terlalu merasa begitu kehilangan.
Ya,
aku kehilangan cintamu, dirimu, juga bayangmu.
Tak
ada cinta yg bisa aku tuangkan dalam puisi ini.
Mungkin,
aku hanya ingin melewati malam dg menuangkan secangkir kopi.
Pudar
semilir angin silih berganti menerpaku.
menerpa jiwaku, begitu lembut.
seakan ia tau kesenduan dalam hati ini.
kala malam makin larut.
disudut temaptku memacu puisi ini.
cahaya lampu perlahan meredup, bersamaan dengan cahaya cintaku yang mulai memudar.
aku kacau, risau, gundah, gelisah.
saat aku mencoba menyebrangi jembatan antara hati kita.
sebuah satir tiba-tiba menghalangi jalanku.
kesenduanku makin menjadi-jadi.
kutemukan engkau bahagia kala melihatnya datang, membelangiku.
Rabu, 15 Januari 2014
Senja Tak Lagi Merah
Hanya secangkir kopi yg menemani soreku.
Tak kutemukan bayangmu yg biasa menjelma disampingku.
Aku menengadah, menatap
langit2 teras rumahku.
Menerawang menembus cakrawala.
Mencoba mencari bayangmu
yg mungkin terbang entah kemana.
Namun tetap tak kutemukan.
Lantas kutatap sekelilingku.
Kurasakan ada
yg aneh di sore ini.
Kutatap jarum jam tanganku yg perlahan menunjukkan hari
mulai berganti malam.
Aku mengambil sebatang rokok terakhirku.
Kunyalakan dg korek api yg mulai menua.
Begitu menyedihkan, kala mulai kusadari.
Aku baru saja melewati senja yg tak lagi merah.
Tanpa bayangmu, tanpamu.
Ironi
Kau lihat kah bulan itu?
Dia tersenyum padaku
Aku tak mengerti arti senyuman itu
Aku merasa senang diatas penderitaanku
Serasa menari-nari diatas kobaran api
Melangkah ringan diatas pijakan berduri
Tanpa sedikitpun rasa sedih
Aku jatuh cinta
Pada sesosok indah yang hadir
Dia datang dan terkadang pergi begitu saja
Begitu sejuk kala kutatap matanya
Ah, sial! Aku bahagia
Merasa begitu damai saat kau hadir
dihidupku
Bahkan, meskipun aku tak mampu memilikimu
Setidaknya, aku memiliki cinta
Yang telah lama kuberikan padamu,
seluruhnya
Lambaian Sunyi
Malam mulai mengetuk
Membawa sejuta sunyi
Terkadang hembusan angin datang menderu
Hanya terkadang
Ya, malamku selalu ramai oleh sunyi
Benar-benar terasa mengusik
Bahkan derasnya hujan dan berisik gemuruh
guntur
Tak mampu membuat mereka pergi
Aku masih terduduk disebuah sofa kecil
dipojok ruangan
Berusaha keras menyusun beberapa kata
diatas lembaran putih
Namun, yang kudapati hanya linangan airmata
yang tak dapat kutulis kesedihannya
Alangkah perih
Engkau pergi tanpa satupun lambaian tangan
padaku
Kau membawa sedikit kenangan yang kumiliki
Hingga yang tersisa hanyalah sunyi
Langganan:
Postingan (Atom)