Ada saat dimana kita dituntut hanya untuk menerima.
Tanpa bisa untuk memilih.
Seperti aku menerima kenyataan, bahwa kamu tidak jatuh cinta
kepadaku, tapi kepadanya: sahabatku.
Ya, andai aku bisa memilih.
Aku akan memilih untuk tak pernah mengenalnya, juga mengenalmu.
Agar aku tak pernah jatuh cinta padamu.
Juga agar aku tak harus menelan kenyataan pahit seperti itu.
Seperti yang kamu tahu, aku tidak diberikan kesempatan untuk
memilih.
Namun, ada satu kehendak, yang bisa kuterima dengan lapang
dada.
Mungkin aku memang sudah digariskan, untuk menulis segala
duka yang kamu sayatkan.
Untuk mewarnai segala kesedihan yang kamu lukis.
Untuk menghujani segala sendu yang kamu tiupi dengan angin
kemarau.
Maka, aku menerimanya, dengan mata tertutup dan hati yang
terbuka: selalu, kepadamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar