Selasa, 30 Desember 2014

Akankah Kamu?



Malam selalu jadi sepanjang ini tanpa hadirmu. Padahal, kamu adalah sosok yang paling nyata yang aku lamunkan. Tak benar-benar nyata, tapi cukup terasa ada. Barangkali, aku satu-satunya orang yang dapat merasakan eksistensimu tanpa harus kamu ada.
Sedihnya, hanya merasakan kamu ada tak cukup membuatku mampu mengikis malam dan waktu. Detik dan menit sudah berjalan seperti bulan dan tahun. Waktu terasa berputar teramat sangat lambat. Bahkan aku dapat merasakan tiap denyutan jantungku yang sudah seperti orang sekarat saja, seperti sudah tak ingin berdetak lagi. Sedihnya lagi, bersamaan dengan waktu yang sengaja berjalan tiarap, aku menyadari bahwa kamu tidak di sini, tidak di sisi. Bahwa aku kehilangan bentuk nyatamu, sepanjang waktu. Barangkali, aku satu-satunya orang yang tak (pernah) mampu membuat kamu benar-benar nyata, benar-benar ada, bukan hanya sekedar rasa.
Aku dipaksa untuk menyelami kesedihanku sendiri, tanpa tabung oksigen, tanpa pelampung dan tanpa sekoci. Untuk orang yang tak bisa berenang sepertiku, yang terlahir bukan sebagai manusia amfibi ataupun sebagai Poseidon, tentunya dengan mudahnya aku akan tenggelam. Semakin tenggelam hingga harus menelan air keruh dari kesedihanku sendiri. Sampai akhirnya aku sampai pada dasar dari lautanku dan tak ada kuasa atasku untuk berenang ke permukaan. Eksistensiku terkurung di sana, lautan menyedihkan yang aku terka dan aku ciptakan sendiri itu, dimensi yang (mungkin) tak akan dapat kamu temukan. Menyebalkan rasanya terkurung dalam dunia yang kita ciptakan keberadaannya sendiri.
Harapanku tinggallah satu, seseorang datang dan rela bersusah payah menahan nafasnya untuk menyelam dan menyeretku dari sana atau mati saja sekalian, daripada tersiksa perih seperti itu secara perlahan. Dalam nafasku yang menggelembung ke permukaan, kuselipkan doa pada setiapnya, dan kamu lah ketidakmungkinan yang senantiasa aku semogakan. Dan pertanyaanku pun hanya satu, akankah kamu datang? Semoga saja. Semoga.

Senin, 10 November 2014

Eksistensi

Sejauh ini, masih teramat mudah bagimu memenangkan perasaanku. Entahlah, kurasa ada yang salah dengan cara kerja batinku. Tiba-tiba semuanya jadi tabu. Batas eksistensi dan ilusi tak lagi tampak. Pudar terkikis tetes rindu yang menghujan dan membanjir.
Dan bahkan, tanpa kamu perlu berbuat apapun, kamu tetaplah keadaan yang paling nyata. Kenyataan dari eksistensi terus dipertanyakan. Tak peduli kamu memang eksis atau hanya ilusi, sisi terkecilku masih dengan nyata memandangmu ada. Dimana-mana, kamu seperti tengah tersangkut di pelupuk mataku, bergelantungan pada retinanya. Pada akhirnya, logika pun membawa kesadaran padaku. Bahwa kamu memang tak nyata. Dan aku tak dapat membuatmu nyata. Tetap saja batinku meronta, tak menerima dengan menutup mata. Pertempuran logika dan perasaan tak terelakkan, kebenaran keduanya tengah diperjudikan.
Di waktu yang lalu, kamu hadir namun tak pernah mau mampir. Hanya datang dan tak singgah. Oh nona, tak cukup teduh kah hatiku untuk kau tinggali? Tak cukup nyaman kah untuk kau jadikan rumah? Harus kuhias dengan apalagi? Hingga denyut terakhir dari prosa ini, misteri daripada eksistensi masih menjadi ilusi.

Rabu, 29 Oktober 2014

Selamat Melupa, Nona

Lihatlah, betapa malam tak pernah membiarkanku terlelap tanpa mengingat nyala pijarmu.
Aku jenuh, aku bosan.
Aku ingin melupa, tentang warna apa yang sebenarnya tersimpan dalam nyala itu.
Aku teramat ingin tau, seperti apa rasanya mengingat-ingat kembali.
Ah, sepertinya melupa itu indah.
Sayanganya, sayang sekali, nona.
Justru warna-warna itu yang memaksaku untuk tak jadi pelupa
Ya, mereka, si merah, oranye, jingga dan komplotannya.
Kamu tau? mereka hanya membuatku makin rindu pada senja dalam pelupuk matamu.
Tampaknya mereka juga sedang melupa.
Bahwa sebaik-baiknya pengingat adalah seorang pelupa.
Bukan begitu, nona?
Sudahlah, ini memang terlalu larut untuk menjadi pelupa.
Selamat berlelap, nona.
Jangan lupa untuk melupakanku, esok hari, dan hari-hari setelahnya yang bahkan kamu sendiri pun lupa.
Selamat melupa!

Kamis, 08 Mei 2014

Apa Ini Memang Malam?

Selamat malam, hati yang tak lagi menjadi tempat paling teduh.
Selamat malam, rindu yang tak lagi menggebu-gebu.
Selamat malam, kau yang mulai terlupakan.
Selamat malam, malam yang jadi semakin kelam.
Tunggu dulu, apakah ini memang sudah malam?
Atau hanya mataku yang tak lagi mampu melihat terang semenjak pijarmu telah pergi?
Entahlah, aku tak mampu mengerti, bahkan dalam otakku pun terlalu petang untuk mencari jawaban.
Aku tak mampu membedakan, antara siang dan malam, antara terang dan petang, pun antara kau dan bayangmu yang masih saja berada di sini.
Sesaat lalu, aku melihatmu terbang, pergi membawa pijar yang pernah kau nyalakan dalam diriku.
Namun, entah mengapa tak kau bawa juga bayangmu ini, biar aku dapat lekas melupakanmu.
Atau memang kau sengaja meninggalkannya? Agar aku tak dapat melupakanmu?
Atau ini hanya karena aku yang terlalu tak bisa menerima kepergianmu?
Sudahlah, aku yakin kau tak kan mampu menjawabnya.
Karena aku telah bertanya pada segala yang ada, pada tanah yang dibasahi hujan, pada daun yang diterbangkan angin, pada malam yang melintang, pun pada bayang yang kau tinggalkan.
Tak satupun dari mereka mampu menjawab.
Atau mereka telah menjawabnya? Hanya saja aku terlalu tuli untuk dapat mendengarnya? Ya, bisa saja. Semenjak kau tak ada, aku tak mampu lagi mendengar suara-suara indah hujan, kicauan burung-burung, juga hembusan angin. Aku hanya dapat mendengar elegi rintihan malam, mencabik telingaku dalam-dalam.
Terlalu banyak hal yang berubah semenjak kau pergi.
Aku tak mampu menuliskannya satu persatu.
Aku tak mampu mengingatnya pasti.
Semuanya bagiku, juga hanya terasa hambar.
Aku merasa tak lagi ada, mungkin seperti mati. Ya.
Ketahuilah, pergimu itu matiku.
Aku selalu menunggu, waktu untuk aku dihidupkamd kembali.
Entah olehmu, atau oleh pijar yang lain.
Aku akan menunggu seperti pelangi yang setia menunggu hujan reda.
Aku yakin waktu itu pasti ada, maka aku menunggu, selamanya. Mungkin terlalu lama, namun tak apa. Biar saja.

Minggu, 04 Mei 2014

Kita, Aku, dan Kamu

Malam masih belum begitu larut. Namun aku sudah terlalu larut dalam kesedihanku.
Tak ada lagi yang mampu mengerti.
Tak ada lagi yang perlu dibagi. Selain pada Tuhan, juga pada secangkir kopi.
Dari ketanpaanmu, dan dari kesenderianku. Kutemukan persamaan antara air dan api. Keduanya jadi terasa sama, hanya hambar.
Kutemukan juga persamaan antara hitam dan putih. Keduanya jadi sama kelabunya di mataku.
Dari pergumulanku dengan Tuhan, merah senja, sunyi malam, dan secangkir kopi. Juga bayangmu yang seringkali menyeringai di balik hujan. Banyak ilusi yang akhirnyaterungkap. Aku jadi mengerti bahwa 'Kita' sebenarnya tak pernah ada. Selama ini 'Kita' nampak begitu dekat. Namun sebenarnya 'Kita' tak pernah sedekat itu. Ada sebuah kamuflase di sana. Ilusi telah dimainkan, dan 'Kita' telah terperangkap. Mungkin lebih tepat jika aku menyebutnya, bahwa 'Aku' lah yang terperangkap. Karena sekali saja 'Kamu' tak pernah berada di sana.
Sama sekali tak pernah ada. 'Kamu' lah yang dimainkan ilusi. Mungkin juga, 'Kamu' lah ilusi itu sendiri. Mungkin saja. Iya, mungkin.

Senin, 07 April 2014

Aku Menemukanmu

Aku merasakan rasa yang aneh.
Perasaan yang terasa asing, seakan-akan ini yang pertama.
Sebenarnya, aku telah berkali-kali merasakan hal yang sama.
Namun aku tetap merasa asing dalam rasa yang ini.
Aku juga tidak memahami, apakah aku menemukanmu.
Atau kamu yang menemukanku.
Atau waktu yang mempertemukan kita.
Tapi aku lebih suka menyebut bahwa akulah yang menemukanmu.
Karna bagiku, kamu bagai sepohon bunga mawar yang tumbuh di antara padang ilalang.
Begitu tidak mudah untuk ditemukan.
Hanya keberuntungan yang dapat diandalkan.
Sebelumnya, aku merasa seperti mayat hidup.
Aku seperti tidak ada didalam keadaanku.
Namun semenjak aku telah menemukanmu.
Aku seperti dihidupkan kembali.
Kamu memberi nyawa baru pada tubuh hidupku yang tak bernyawa.
Apakah kamu mengerti dongeng putri tidur?
Ya, apa yang terjadi ini bagaikan dongeng.
Kamu adalah pangeran yang membangunkan putri tidur dari tidur panjangnya karena kutukan.
Kamu mampu membuatnya tersadar hanya dengan satu ciuman.
Sedang aku adalah putri tidur, bagiku cinta yang hanyalah ilusi adalah kutukan.
Kamu tak perlu butuh waktu lama untuk membuatku percaya bahwa kamu adalah orang yang tepat.
Semoga kamu mengerti apa yang kurasa.
Dan semoga kamu merasa yang sama dengan apa yang kurasakan sekarang.

Rabu, 02 April 2014

Ya, Manusia Memang Dirancang Untuk Terluka

Mbak Dewi Lestari pernah berkata di dalam salah satu bukunya yang berjudul Supernova.
"Akhirnya aku mengerti betapa rumitnya konstruksi batin manusia. Betapa sukarnya manusia menanggalkan bias, menarik batas antara masa lalu dan masa sekarang. Aku kini percaya manusia dirancang untuk terluka."
Saya mencoba sedikit mengartikan maksud dari pekataannya tersebut. Dengan sudut pandang dan cara berpikir saya sendiri. Hanya berikut inilah yang mampu saya jelaskan.

Percaya nggak percaya, Tuhan menciptakan hati (perasaan) manusia dengan susunan yang begitu rumit. saking rumitnya, terkadang manusia tak mampu mengerti apa yang sedang dirasakannya, lalu mereka menerka-nerka dan memberi sebutan pada perasaan itu. Seperti halnya cinta, apa kita pernah mengerti bagaimana cara cinta bekerja? bagaimana cinta tiba-tiba muncul dengan tak terduga? bagaimana cinta jadi membara? bagaiman benci dapat menjadi cinta? bagaimana cinta dapat memberikan luka pada perasaan kita yang tak terlihat? bagaimana bisa cinta terasa begitu indah, dan kadang terasa begitu menyakitkan?
Bagaimana semua itu bisa terjadi? itulah salah satu kerumitan susunan hati manusia yang tak dapat dimengerti dengan pikiran, hanya bisa dimengerti dengan perasaan itu sendiri, tanpa mampu dijelaskan.
Dengan kerumitan susunan hati tersebut, ada hal lain yan muncul akibat dari itu. kita menyebutnya kenangan, hal paling sulit untuk dilupakan oleh manusia. Seperti namanya, kenangan itu adalah memori dalam ingatan kita tentang hal-hal yang telah kita lalui dimasa lampau. Dan selampau apapun kenangan tersebut, ia selalu mampu membias (menembus) ke dalam masa sekarang. dan mempengaruhi kehidupan sekarang. Entah itu kenangan bahagia ataupun luka.
Selama masa kehidupan kita, kita tak hanya pernah merasa bahagia. Karena diujung kebahagian, kita pasti akan terluka. Meskipun kadang luka datang lebih awal, disusul dengan kebahagiaan, dan yang menunggu paling akhir adalah luka. Contoh: kita sering sekali terluka karena cinta, bergonta-ganti pasangan (pacar), sampai kita menemukan pasangan hidup yang mampu membuat kita selalu merasa bahagia, saat itu kita berpikir dan percay bahwa kita akan bahagia selamanya bersama orang itu. Sebenarnya tidak, pada akhirnya orang tersebut akan mati, dan pada saat itu kita akan merasakan lagi luka yang begitu mendalam bagi orang yg ditinggalkan. Iya kan?
Lalu, mengapa kita harus terus menerus merasa terluka? karena sebenarnya manusia memang dirancang untuk terluka. Hanya dengan terluka, kita dapat mengerti sedikit demi sedikit penjelasan dari tiap ketidakjelasan hidup.
Hanya itu yang mampu saya jelaskan. Benar salahnya saya tidak tahu menahu. Karena hanya Tuhan dan mbak Dewi lestari sendiri lah yang lebih mengerti.
Sekian.

Senin, 24 Maret 2014

Semoga Tidak Kamu Lagi

Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia.
Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia. Melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu. Itu menyakitkan, seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk. Supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan. Sehingga doa dapat melahirkan semangat, dan kemudian buatku bangkit. Namun ketahuilah sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu. Ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu mengelilingi tubuhku, dan jantungku berdenting demi kau, menari-nari di pikiranku.
Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku. Itu karena aku mampu terima kamu apa adanya. Aku meminta ampun kepada Tuhan. Sebab aku pernah berharap kalau suatu saat. Ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu. Aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi. Sebab hidup  jadi terasa bagaikan dinding yang dingin. Aku harus menjadi paku. Sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya. Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat. Pada akhirnya, semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat. Sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas. Semoga tidak kamu lagi.

Karya: Zarry Hendrik

Aku Berhenti

Karena aku sudah tak mampu lagi untuk berdiri. Ada baiknya aku berhenti, memohon ampun, dan tak lupa berterima kasih.
Aku berhenti untuk mengejarmu.
Aku berhenti untuk menjaga rasa ini.
Bukan aku melepasmu.
Karna aku menyadari, bahwa sebenarnya aku tak pernah dapat menggenggammu dihari-hari sebelumnya.
Andai aku mampu, aku ingin sekali untuk menangis. Namun tak setetes air mata pun dapat aku jatuhkan ke dasar hatimu supaya ia tak lagi bergeming. Aku tahu bahwa aku butuh lebih dari sekedar tangis bercucur darah, sebening embun, dan sepekat malam, untuk aku dapat menerima kenyataan ini. Aku juga tahu bahwa aku butuh lebih dari sekedar cinta untuk meluluhkan hatimu. Mungkin aku butuh seisi dunia ini untuk membuatmu mengerti. Bahwa aku pernah memiliki rasa sedalam ini, segila ini, dan semenyiksa ini. Bahwa pernah aku mencintaimu. Namun Tuhan tak memberiku itu. Sepertinya Ia tak mau membantu. Sedang aku sudah terlalu takut akan menjadi bangkai di dalam hatimu. Meninggalkan bau anyir lalu lenyap dan dilupakan begitu saja, karna aku tak memiliki sisa belulang supaya kau dapat mengingatku. Sebab keseluruhan tulangku telah remuk dalam perjalanan ini. Perjalanan tak berujung untuk mencari gerbang hatimu yang sepertinya hanya ilusi. Maka aku memilih untuk berhenti. Dan belajar untuk mengikhlaskan apa yang bukan milikku. Juga mencoba untuk menerima, meski sebenarnya hatiku lebih tak menerima untuk aku melakukan ini. Tapi aku begitu memaksa. Karna hanya itu yang aku bisa.

Kamis, 20 Maret 2014

Dealova

Aku mencintai segala keindahanmu.
Begitu pula aku mencintai segala kekuranganmu.
Orang menyebut itu sebuah ketulusan.
Aku menyebutnya sebuah kebutaan.
Karena aku memandang kekuranganmu sebagai sebuah keindahan.
Sejujurnya, aku sama sekali tak menemukan adanya kekurangan pada dirimu.
Sepertinya, aku telah dibutakan.

Selama ini, aku memberi yang aku ada.
Dan berbuat yang aku bisa.
Dan telah lama aku menghambakan diri pada kecantikanmu.
Selayaknya seorang budak.
Aku tak mengharapkan apa - apa selain cintamu.
Meski aku tahu bahwa tak mungkin kau akan memberikan cintamu itu.

Lalu, aku bercerita perihal rindu pada sang waktu.
Aku bagai sebuah muara, dan kau adalah laut, sedang rindu adalah air.
Aku adalah apa yang dialiri rindu, dan kau adalah tujuan dari segala rinduku.
Dia tertawa, aku ikut tertawa, lebih keras.
Mungkin dia pikir aku gila.
Tapi jika aku memang benar telah gila.
Kamu adalah salah satu dari penyebabnya.

Beberapa waktu lalu, kau berbicara perihal ketulusan padaku.
Sedang aku sendiri, masih tak tahu menahu tentang hal itu.
Tentang apa itu, tentang bagaimana seseorang bisa dikatakan tulus.
Selama ini aku selalu tersesat, saat mencoba mencari tahu arti dari sebuah ketulusan.
Aku telah disesatkan, oleh rindu dan segala sendu yang mengikutinya.
Tapi ada satu hal yang kutahu pasti. Bahwa.
Selama ini, aku mencintaimu.
Hanya itu? Ya hanya itu yang aku tahu.

Rabu, 19 Maret 2014

Keteraturan

Aku telah banyak belajar mendengar, agar aku bisa menjadi tempat terbaik bagi keluh kesahmu.
Hingga membuatku lupa, bagaimana untuk bercerita.
Kamu telah banyak bercerita, namun kamu lupa untuk belajar mendengar.
Aku mendengarmu dengan sangat jelas, namun kamu tak mampu mendengar yang sama denganku.
Aku pikir itu sebuah keteraturan alam.
Ternyata aku salah memahami konsep keteraturan.
Kita hanya saling melengkapi di satu, tak di semua, sisi.
Aku tak berhenti, aku tak menyerah.
Satu-satunya hal yang masih bisa ku ingat jelas ialah menulis.
Maka aku menulis puisi - puisi ini.
Agar aku bisa bercerita segala rasaku, juga agar kamu bisa membacanya, lalu mengerti maksudnya, tanpa harus mendengar.
Tak cukup susah kan?

Jumat, 14 Maret 2014

Semoga

Aku menghabiskan waktu senja ini dengan beberapa batang rokok. Yang makin lama makin terasa sesak saat kuhisap. Entah ini hanya aku yang terlalu menikmati luka, atau jantungku memang sudah terlalu sesak dengan semua luka ini. Diwaktu yang lalu, aku pernah hidup dalam indahnya sebuah rasa. Aku juga pernah hidup dalam manisnya sebuah pengorbanan. Begitulah cinta, datang membawa sejuta rasa indah. Lalu pergi meninggalkan luka pada tempat yang pernah disinggahinya. Waktu sudah berjalan begitu lama sejak cinta pergi. Namun luka yang ditinggalkannya masih berdiam didasar hatiku. Menusuk lebih dalam.
Aku mohon ampun kepada Tuhan. Karena dulu aku pernah hidup dengan memenuhi hati dan pikiranku dengan bayangmu. Hingga membuatku lupa pada semua kebaikan-Nya. Sepertinya Tuhan hanya mengujiku dengan kehadiranmu. Aku pernah mendengar orang berkata, bahwa Tuhan tidak akan menguji hambanya diluar kemampuan hamba tersebut. Dulu, dulu sekali, aku sangat percaya pada hal itu. Berbeda dengan kali ini, aku menyerah. Aku sudah berusaha melangkah sejauh yang aku mampu. Sampai kakiku sudah tak sanggup lagi untuk berdiri, namun masih belum kulihat akhir dari jalan ini.

Aku benci untuk mengakui semua ini, bahwa aku pernah mencintaimu. Bahwa aku pernah bingung untuk bagaimana memulai percakapan denganmu. Bahwa aku pernah bercucur keringat dipenuhi rasa cemas menunggu balasan chattingmu sambil berpikir keras untuk topik apa yang akan aku bicarakan denganmu selanjutnya. Bahwa aku pernah selalu memikirkanmu kapanpun dan dimanapun aku berada. Bahwa aku juga pernah berminggu-minggu selalu memimpikanmu. Bahwa aku juga pernah serasa hampir mati karena rindu terlalu mencekik aku. Aku benci mengakui itu semua. Tapi, sampai detik yang baru saja berlalu, aku masih begitu mengharapkan cinta darimu.

Sejak pertama kali aku merasakan getaran rasa ini, sedikitpun aku tak pernah mampu untuk mengerti. Untuk mengerti mengapa aku harus mencintaimu? Mengapa tidak kepada yang lain saja? Mengapa harus ada rindu jika setelahnya hanya ada sendu? Aku masih tak mengerti.

Aku bagaikan rumput, dan kamu adalah api, sedang cinta adalah hujannya. Jadi disaat kamu membakar habis seluruh diriku, bahkan rasaku. Cinta menghujaniku dan membuat rasa ini tumbuh kembali, menjadi lebih lebat dan lebih hijau. Begitulah seterusnya yang selama ini kurasakan. Semoga saja semua ini segera berakhir. Semoga.

Senin, 10 Maret 2014

Ya, Setidaknya

Aku belum pernah mengenal cinta.
Namun aku pernah mengenalmu.
Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.
Karena dengan mengenalmu, aku jadi mengenal segala hal.
Tentang perihal rasa, luka, rindu, sendu, kesabaran, perjuangan, juga perihal kehidupan ini.
Setidaknya, aku pernah mengenal yang lebih dari cinta.

Hidupku juga belum pernah berwarna karena bahagia atas cinta.
Maka aku membiarkan luka mewarnainya.
Meski luka berwarna jauh lebih gelap dari langit malam tanpa bulan dan bintang.
Setidaknya hidupku pernah memiliki warna.

Minggu, 09 Maret 2014

Terlalu Lelah

Aku lelah, teramat lelah.
Aku lelah untuk percaya bahwa cinta adalah perihal yang indah.
Aku lelah menunggu waktu untuk melihat semuanya indah pada waktunya.
Aku lelah untuk terus mengharapkan rasa indah kan hadir untukku.
Aku lelah untuk terus hidup dengan rasa yang menusukku secara membabi buta.
Aku lelah terus menyakiti perasaanku sendiri atas tiap langkah yang kuambil.
Aku ingin berhenti.
Berhenti mencintaimu, berhenti untuk mengenal cinta, dan berhenti untuk menulis puisi.
Aku ingin menyerah pada perasaan ini.
Aku terlalu lemah di hadapan cinta.
Aku ingin membenci cinta ini; cintamu, namun aku tidak cukup tangguh untuk itu.
Aku ingin melepasmu sepenuhnya, tapi aku tak mampu.
Karena jauh didalam hatiku, aku takut sendirian.
Aku terlalu takut untuk hidup tanpa cinta, tanpa puisi, juga tanpamu.
Tapi, aku sudah teramat lelah.

Sabtu, 08 Maret 2014

Semilir Kerinduan

Semilir angin yang biasa menerpaku tak lagi kurasakan.
Semuanya serasa hampa.
Cangkir kopi didepanku mulai mengembun.
Kunikmati sunyi ini dengan rokok yang mengepulkan gumpalan asap, perih dimata, mengaburkan fikiranku.
Aku masih terpaku, di antara lalu lalang orang, di atas kursi tak bertuan.
Perlahan, rasa rindu menyeruak di dalam dadaku.
Rindu yang begitu menggebu, membakar habis hatiku, namun tak menjadikannya abu.
Aku menatap gelas kaca kopiku.
tak kutemukan apapun, selain wajahmu.
Oh kasih, aku rindu ingin bertemu.
Adakah rasa rindumu untukku?
Entahlah, aku tak tau.

Sebuah Pagi Untukmu

Ini adalah pagi.
Matahari telah mulai meninggi.
Beberapa embun masih bersandar pada dedaunan.
Beberapa yang lain menyandarkan dirinya pada rerumputan.
Tiap butirnya memantulkan cahaya keemasan mentari.
Sungguh indah, mereka berlaga layaknya bintang dilangit malam.
Burung-burung pun juga tak henti-hentinya berkiau.
Tiap kicauannya membawa sejuta kedamaian.
Namun, semua itu hanya membuatku makin gelisah.
Aku takut tak mampu membuatkanmu puisi dipagi seindah ini.

Rabu, 19 Februari 2014

Tanpa Judul



Kurebahkan diriku
Sedikit meregangkan otot tubuhku yg mulai kaku
Terkadang sunyi datang membawa kedamaian, didalam kamar kecil ini

Dalam damai: jiwaku terbang melintasi waktu
Mencari jejakmu yg telah lama berlalu

Aku mencari, diantara dedauan yg digugurkan oleh musim.
Mereka menatapku dg perasaan iba.
Seakan akan mereka tahu kegundahanku.

Angin menuntunku melintasi bekas langkahmu.
Lalu aku berhenti, menyesal, dan menangis.
Kala kutemukan kebencian di tiap jejakmu.

Bunga Lukaku



Ayam-ayam itu berkokok, saling menyahut berirama, mengira mereka berada dalam pagi.
Begitu bodohnya, mereka menikmati itu, diwaktu siang.
Mereka lupa, ini hanya bekas hujan.        
Dan mentari hanya belum mau menyinari.
Lucu kurasa, aku tertawa.

Tak jauh beda denganku.
Aku tetap saja menulis puisiku, menikmati lukaku, seakan ini adalah luka yang tak kan pernah sembuh.
Aku lupa, ini hanya bekas kepergianmu.
Dan hanya belum ada, seseorang yang mampu menggantikanmu, serta menghapus semua sakit yang kurasa.
Tapi, aku semakin tak mengerti, aku justru berharap seseorang itu tak pernah ada.
Jadi, tak akan ada yang bisa menggantikanmu.
Juga tak perlu kau hapus rasa sakitku.
Biarlah itu menjadi bunga yang bermekaran dalam puisiku: selamanya.

Takdir Duka



Ada saat dimana kita dituntut hanya untuk menerima.
Tanpa bisa untuk memilih.
Seperti aku menerima kenyataan, bahwa kamu tidak jatuh cinta kepadaku, tapi kepadanya: sahabatku.
Ya, andai aku bisa memilih.
Aku akan memilih untuk tak pernah mengenalnya, juga mengenalmu.
Agar aku tak pernah jatuh cinta padamu.
Juga agar aku tak harus menelan kenyataan pahit seperti itu.
Seperti yang kamu tahu, aku tidak diberikan kesempatan untuk memilih.
Namun, ada satu kehendak, yang bisa kuterima dengan lapang dada.
Mungkin aku memang sudah digariskan, untuk menulis segala duka yang kamu sayatkan.
Untuk mewarnai segala kesedihan yang kamu lukis.
Untuk menghujani segala sendu yang kamu tiupi dengan angin kemarau.
Maka, aku menerimanya, dengan mata tertutup dan hati yang terbuka: selalu, kepadamu.