Rabu, 19 Februari 2014

Bunga Lukaku



Ayam-ayam itu berkokok, saling menyahut berirama, mengira mereka berada dalam pagi.
Begitu bodohnya, mereka menikmati itu, diwaktu siang.
Mereka lupa, ini hanya bekas hujan.        
Dan mentari hanya belum mau menyinari.
Lucu kurasa, aku tertawa.

Tak jauh beda denganku.
Aku tetap saja menulis puisiku, menikmati lukaku, seakan ini adalah luka yang tak kan pernah sembuh.
Aku lupa, ini hanya bekas kepergianmu.
Dan hanya belum ada, seseorang yang mampu menggantikanmu, serta menghapus semua sakit yang kurasa.
Tapi, aku semakin tak mengerti, aku justru berharap seseorang itu tak pernah ada.
Jadi, tak akan ada yang bisa menggantikanmu.
Juga tak perlu kau hapus rasa sakitku.
Biarlah itu menjadi bunga yang bermekaran dalam puisiku: selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar