Pagi akhirnya datang, menyelamatkanku dari kenangan tak berkesudahan.
Sebentar, ini sudah jam 01:06 di tempatku.
Namun pejam tak kunjung datang, justru rindu mendahului melakukan penyerangan.
Klasik memang. Mereka bilang pejam belum pernah datang sebelum rindu.
Sial memang. Malam dan pagi sama panjang di hadapan rindu.
Sadar dan pejam sama menakutkannya di hadapan kenangan.
Rindu dan kenangan... Ah, sudahlah.
Aku lelah...
Aku bosan menunggu. Aku lelah menanti.
Aku bosan menanti kedatangan apapun.
Tapi masih saja aku ingin berlari, ingin pergi.
Aku susah-susah menabung untuk membeli sebuah kompas baru untuk pergi jauh.
Tapi arah mata angin tetap menuju kamu.
Kamu, kamu, kamu lagi... dan kamu.
Tidak lelahkah kamu untuk selalu menjadi tujuan akhir yang tak pernah berakhir?
Sebab aku sudah lelah, teramat lelah, nona.
Aku lelah untuk berlari. Aku lelah untuk pergi. Aku lelah untuk kembali.
Bahkan untuk mengenal yang lain pun aku sudah lelah.
Aku sudah sampai batas yang tak berbatas.
Dan masih saja, aku masih berlari, lari di tempat.
Sebentar, ini sudah jam 01:06 di tempatku.
Namun pejam tak kunjung datang, justru rindu mendahului melakukan penyerangan.
Klasik memang. Mereka bilang pejam belum pernah datang sebelum rindu.
Sial memang. Malam dan pagi sama panjang di hadapan rindu.
Sadar dan pejam sama menakutkannya di hadapan kenangan.
Rindu dan kenangan... Ah, sudahlah.
Aku lelah...
Aku bosan menunggu. Aku lelah menanti.
Aku bosan menanti kedatangan apapun.
Tapi masih saja aku ingin berlari, ingin pergi.
Aku susah-susah menabung untuk membeli sebuah kompas baru untuk pergi jauh.
Tapi arah mata angin tetap menuju kamu.
Kamu, kamu, kamu lagi... dan kamu.
Tidak lelahkah kamu untuk selalu menjadi tujuan akhir yang tak pernah berakhir?
Sebab aku sudah lelah, teramat lelah, nona.
Aku lelah untuk berlari. Aku lelah untuk pergi. Aku lelah untuk kembali.
Bahkan untuk mengenal yang lain pun aku sudah lelah.
Aku sudah sampai batas yang tak berbatas.
Dan masih saja, aku masih berlari, lari di tempat.