Sabtu, 06 Februari 2016

Akan Ada Aku

Aku tak begitu ingat kapan kamu pergi, menghilang begitu saja dari peredaran duniaku.
Kamu tahu aku pelupa.
Dan untuk urusan yang satu itu, aku sengaja tak mengingatnya.
Biar saja. Aku menikmati lupaku.

Satu hal yang mampu kuingat pasti.
Jauh sebelum duniaku tak mampu lagi melacak kepergianmu, aku telah menyelipkan sebuah peta pada ransel merah jambu yang tak pernah absen menemani petualanganmu.
Kelak peta itu akan menjadi satu-satunya penunjuk jalan untukmu kembali.
Untuk pulang pada pelukan yang tepat.

Aku mengenalmu sebagai seorang petualang sejati.
Pengejar mimpi yang paling gigih.
Jauh sebelum tiba waktumu untuk benar-benar pergi, aku sudah menyadari bahwa hal sedemikian itu akan terjadi.
Aku menyiapkan diri dan hati untuk menyambutmu pergi.

Dan dalam persiapanku yang masih setengah jalan.
Kamu pergi, menghilang, lenyap dari peredaran semestaku.
Tanpa satupun kalimat perpisahan.
Bahkan tak ada peluk-tangis layaknya sebuah perpisahan.
Tak ada juga lambaian tangan sederhana yang menandakanmu siap untuk bertualang.
Atau setidaknya ucapan basa-basi "aku akan pergi, sementara" atau "aku akan kembali. Tunggulah".
Tak ada. Satupun tak ada.
Aku ambruk. Aku remuk.
Hancur sudah semua persiapanku yang sia-sia, ternyata.

Selama kamu menghilang, aku belajar bagaimana cara menunggu yang baik.
Aku belajar bagaimana cara menantimu tanpa harus mencari penggantimu.
Kamu pernah berkata bahwa akan ada pelangi setelah hujan.
Kamu percaya sepenuhnya bahwa akan ada cahaya setelah gelap.
Akan ada bahagia setelah pedih.
Kamu percaya sepenuhnya pada semua itu.

Dan di antara segala jenis akan yang tak lagi kamu percaya, aku akan ada. Akan kau temukan aku menyambutmu di ujung lelahmu. Memberimu senyum usang yang akan selalu kau rindukan kehangatannya.
Memelukmu begitu lembut dan berbisik 'Ayo pulang. Kubuatkan secangkir coklat panas kesukaanmu'.

Bagaimana, kekasih?
Sudah cukup lelahkah kamu untuk pulang?
Kemari. Mari pulang, bersamaku.

Rabu, 28 Oktober 2015

Aku Jatuh (Lagi)

Ketika segala hal menjadi gelap dan kelabu. Ketika kupikir, cahaya tak lagi menyenangkan. Ketika semakin kuselami kegelapan perasaanku. Ketika aku makin tenggelam dalam sedih dan duka. Ketika itu, kamu datang, tepat waktu.

Aku ingat ketika kita pertama kali satu kelas. Kamu datang, mengambil kursi di depan, diam di tempatmu, dan mengabaikan segala omong kosong di sekitarmu. Tapi aku (sudah) benar-benar jatuh teramat cinta,

Kamu cerewet, ribet, dan kamu ceroboh, amat ceroboh. Kamu suka mengatur dan aku suka melihatmu dengan semua itu. Perempuan berkacamata dengan segala hal yang rumit tentangnya. Ah, lagi-lagi aku suka. Aku jatuh (lagi), akhirnya.

Pada gerakmu yang memesona. Pada senyummu yang kelewat indah. Pada binar yang ada pada kedua matamu (bahkan dengan kacamatamu, kamu tak mampu menyembunyikannya dariku). Betapa aku mendamba pada segalamu, nona.

Jangan bertanya kenapa aku bisa jatuh dan secinta ini, nona. Aku sendiri tak tahu dan tak ingin tahu. Kamu memang tak melakukan apapun. Aku juga tak melakukan apapun. Ketika itu, aku hanya jatuh. Dan aku memang suka terjatuh, maklumi saja. Aku menikmati jatuhku dan mencintaimu sedalam ini. Ah, sepertinya ini sudah tak pantas disebut jatuh. Sepertinya aku sudah terjun bebas kali ini.

Senin, 21 September 2015

Masih

Mencoba melupakanmu dan berakhir dengan lupa pada diri sendiri.
Entah yang mana yang lebih buruk, tak dapat kurasakan perbedaannya.
Bukankah aku adalah kamu dan kamu adalah aku?
Ketika kamu benar-benar pergi waktu itu, tidakkah seluruhku juga pergi membarengimu?
Tidak, beberapa pecahan bagian kecil diriku masih menetap di dalamku.
Dan akibatnya, eksistensiku tak lagi diakui.
Diakuikah sebuah inti atom jika hanya berisi proton tanpa ada neutron?
Dan aku pun teramat tahu, melupakanmu berarti melupakan diriku sendiri.
Namun ada secercah harap di sana.
Jika ternyata dengan lupa aku akan dapat membentuk kembali, memperbaharui, dan mensistem ulang diriku?
Bukankah aku akan menjadi seseorang yang baru?
Dan bagaimana jika ternyata yang terjadi malah sebaliknya?
Mengapa masih bertanya?
Bukankah peluang terbesar yang akan dilakukan seseorang yang tengah melupa adalah kembali mengingat?
Dan jika ternyata ketika itu aku lebih memilih mengingat daripada memperbaharui, berarti aku akan kembali terisi olehmu dan pecahan diriku, lagi.

Bagaimana? Sudah berulang kali kukatakan, ini perjudian hati yang taruhannya sangat besar.
Tak tanggung-tanggung, yang dipertaruhkan adalah segala rasa.

Masih tertarikkah aku mengulanginya? Masih.

terinspirasi oleh @sebuahego

Sabtu, 20 Juni 2015

Tuhan, Terima Kasih

Sesaat, mata kami berdua tetiba bertemu. Di saat yang sama, bumi seakan tak punya poros lagi untuk berputar, benar-benar berhenti, pada satu kehendak, pada mata indahnya. Aku seperti dilarang memandang bagian lain dari wajah nan elok itu, selain hanya pada matanya. Benar saja, pada matanya, aku disuguhi paket pemandangan semesta lengkap beserta galaksinya. Yang tak ada hanyalah bumi, sebab sedang kami pijaki untuk bertatap muka dan bertatap mata.

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari terlewati. Dan demi satuan waktu apapun, pijar di matanya tak sedikitpun memadam. Aku suka memandang matanya berlama-lama. Cahaya di matanya itu, iya, belum ada kata yang dapat merangkumnya, lebih tepatnya mungkin belum diciptakan kata yang mewakili segala keindahan itu. Ada semacam keteduhan di mata itu. Gelap di langit-langit hatiku tak butuh banyak bintang, tak butuh bulan untuk jadi penerang, hanya dua mata itu dan seluruh dirinya. Kedua mata itu tak hanya menerangi tapi juga menggenapi.

Di hari-hari sebelumnya, aku adalah raga tanpa kehendak. Aku adalah rasa tanpa ada pemiliknya. Kamu tahu perahu yang tak karam tapi tak ada tempat yang pas untuk melabuhkannya? Ya, seperti itulah aku, dulu. Diombang-ambing ombak dengan berjuta hal memabukkan di permukaan. Kamu tahu burung gereja yang di sebuah kota yang tak memiliki gereja? Ya, seperti itulah aku, dulu. Hinggap sejenak sebuah atap lalu kembali terbang di udara, merasakan angin yang itu-itu saja hingga terkadang mencoba melawan arah mata angin. Dasar burung gereja bodoh!

Hingga pada waktunya, kita dipertemukan. Aku ingat kali pertama bertemu dengannya. Langit, angin bahkan burung-burung yang terbang pada hari itu. Aku tahu dengan baik. Hidupku takkan pernah sama. Aku adalah burung gereja yang menemukan gerejanya. Aku adalah perahu yang menemukan pelabuhannya. Aku adalah rasa yang dimiliki olehmu. Aku adalah raga yang penuh kehendak untuk menjadi satu-satunya dan segala hal yang kamu miliki.

Aku berterima kasih kepada Tuhan atas segala hal yang telah dikehendaki-Nya, terutama dipertemukan dengannya. Aku berterima kasih kepada bulan dan bintang-bintang yang telah menjadi terang pada malam-malam sebelumnya. Karena dia, perempuan itu, kedua matanya itu, jauh lebih cukup untuk menjadi satu-satunya terang yang ingin selalu aku pandang. Aku tidak tahu harus menggambarkan hadirnya di hidupku seperti apalagi. Karena demi apapun, dia melebihi apapun. 

Jumat, 08 Mei 2015

Bajingan

03:26 di tempatku. Belum juga satu pun kantuk menjemputku menuju lelap. Pun hanya untuk menyapa mereka tak sudi. Kopi hanya semakin meracuni. Tak ada lagi udara segar, asap rokok mengepul memenuhi seisi ruangan. Aku terbatuk berat menahan kenangan yang mencoba masuk ke dalam rongga dada. Tersesak oleh asap, disesaki oleh kenangan. Barangkali aku butuh lebih banyak kopi, lebih banyak nikotin dan lebih banyak kenangan.
Oh, nona. Sesekali aku ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kenangan-kenangan yang salah tentang kita. Sesekali aku ingin kembali ke masa lalu hanya untuk menghapusmu dari jalan cerita. Dan seringkali, aku ingin pulang dan kembali pada pelukmu yang menghangatkan.
Nona, barangkali kita perlu duduk dan banyak bicara (lagi). Aku dengan kopiku dan kamu dengan teh hijaumu itu. Atau barangkali kamu ingin coklat panas? atau kopi susu di kafe yang pelayan wanitanya pernah kamu cemburui itu? Kamu juga boleh memesan ketiganya. Aku tak peduli. Aku hanya peduli pada kata di antara kita. Aku ingin (kembali) melihatmu banyak bicara (lagi).
Mari bercerita tentang banyak hal yang kamu suka. Ceritakan padaku tentang hujan yang mengguyur basah baju merah jambu yang aku hadiahkan di hari ketika aku salah mengira hari ulang tahunmu. Lalu ceritakanlah padaku tentang perkenalanmu dengan jarak. Tentang banyak sekali rindu yang kamu temui di perjalanan menuju pulang. Mari kita kembali menatap bintang. Berdua saja. Mari kita kembali saling menemukan. Kembali.
Kamu pernah menjadi senja, nona. Menenggelamkan semuanya. Yang tersisa hanya gelap. Yang tersisa hanya harum kehampaan.
Kamu pernah menjadi gelap. Teramat gelap. Kamu obrak-abrik segala terang. Dan semuanya semakin gelap. Yang tersisa hanya remang. Yang tersisa hanya bayangmu di kejauhan.
04:07 di tempat yang sama. Aku tetap terjaga sepanjang malam, setiap malam. Dan kenangan tetap dijaga oleh malam, seluruh malam. Kini malam jadi kenangan. Dan sedihnya, kenangan tak lagi milik malam. Malam telah berbagi kenangan pada pagi. Pada daun gugur ketika siang datang. Pada senja ketika sore menjelang.
Hingga akhirnya, tak ada lagi yang bisa dibagikan tentang kenangan. Mereka sudah teramat saling mengenal. Dan mereka sudah jadi kenangan.

Bicara soal kenangan, aku punya kenangan yang ingin kuceritakan. Barangkali sudah aku ceritakan? Sudahlah. Lagipula semua itu hanyalah kenangan. Ya, kenangan. Bajingan. 

Senin, 16 Maret 2015

Batas Tak Berbatas

Pagi akhirnya datang, menyelamatkanku dari kenangan tak berkesudahan.
Sebentar, ini sudah jam 01:06 di tempatku.
Namun pejam tak kunjung datang, justru rindu mendahului melakukan penyerangan.
Klasik memang. Mereka bilang pejam belum pernah datang sebelum rindu.
Sial memang. Malam dan pagi sama panjang di hadapan rindu.
Sadar dan pejam sama menakutkannya di hadapan kenangan.
Rindu dan kenangan... Ah, sudahlah.
Aku lelah...
Aku bosan menunggu. Aku lelah menanti.
Aku bosan menanti kedatangan apapun.
Tapi masih saja aku ingin berlari, ingin pergi.
Aku susah-susah menabung untuk membeli sebuah kompas baru untuk pergi jauh.
Tapi arah mata angin tetap menuju kamu.
Kamu, kamu, kamu lagi... dan kamu.
Tidak lelahkah kamu untuk selalu menjadi tujuan akhir yang tak pernah berakhir?
Sebab aku sudah lelah, teramat lelah, nona.
Aku lelah untuk berlari. Aku lelah untuk pergi. Aku lelah untuk kembali.
Bahkan untuk mengenal yang lain pun aku sudah lelah.
Aku sudah sampai batas yang tak berbatas.
Dan masih saja, aku masih berlari, lari di tempat.

Selasa, 30 Desember 2014

Akankah Kamu?



Malam selalu jadi sepanjang ini tanpa hadirmu. Padahal, kamu adalah sosok yang paling nyata yang aku lamunkan. Tak benar-benar nyata, tapi cukup terasa ada. Barangkali, aku satu-satunya orang yang dapat merasakan eksistensimu tanpa harus kamu ada.
Sedihnya, hanya merasakan kamu ada tak cukup membuatku mampu mengikis malam dan waktu. Detik dan menit sudah berjalan seperti bulan dan tahun. Waktu terasa berputar teramat sangat lambat. Bahkan aku dapat merasakan tiap denyutan jantungku yang sudah seperti orang sekarat saja, seperti sudah tak ingin berdetak lagi. Sedihnya lagi, bersamaan dengan waktu yang sengaja berjalan tiarap, aku menyadari bahwa kamu tidak di sini, tidak di sisi. Bahwa aku kehilangan bentuk nyatamu, sepanjang waktu. Barangkali, aku satu-satunya orang yang tak (pernah) mampu membuat kamu benar-benar nyata, benar-benar ada, bukan hanya sekedar rasa.
Aku dipaksa untuk menyelami kesedihanku sendiri, tanpa tabung oksigen, tanpa pelampung dan tanpa sekoci. Untuk orang yang tak bisa berenang sepertiku, yang terlahir bukan sebagai manusia amfibi ataupun sebagai Poseidon, tentunya dengan mudahnya aku akan tenggelam. Semakin tenggelam hingga harus menelan air keruh dari kesedihanku sendiri. Sampai akhirnya aku sampai pada dasar dari lautanku dan tak ada kuasa atasku untuk berenang ke permukaan. Eksistensiku terkurung di sana, lautan menyedihkan yang aku terka dan aku ciptakan sendiri itu, dimensi yang (mungkin) tak akan dapat kamu temukan. Menyebalkan rasanya terkurung dalam dunia yang kita ciptakan keberadaannya sendiri.
Harapanku tinggallah satu, seseorang datang dan rela bersusah payah menahan nafasnya untuk menyelam dan menyeretku dari sana atau mati saja sekalian, daripada tersiksa perih seperti itu secara perlahan. Dalam nafasku yang menggelembung ke permukaan, kuselipkan doa pada setiapnya, dan kamu lah ketidakmungkinan yang senantiasa aku semogakan. Dan pertanyaanku pun hanya satu, akankah kamu datang? Semoga saja. Semoga.