Rabu, 19 Februari 2014

Ruang 39


Selayaknya ujian, suasana kelas begitu tenang.
Hanya suara gemuruh kipas angin yang mampu memecah keheningan, menggema keseluruh ruangan.
Sesekali, terdengar bisik-bisik beberapa siswa.
Sembunyi-sembunyi, dengan suara lirih, saling bertukar jawaban.
Beberapa kali, guru pengawas mendapati keganjalan itu, namun kemudian mengacuhkan mereka.

Bagi beberapa yang lain, saat ujian adalah saat paling nyaman, untuk menuntaskan rasa kantuk mereka.
Berbeda denganku, yang diam-diam tengah sibuk mengamati perempuan di sudut ruangan.
Sembunyi-sembunyi, seakan tengah bersontekan, mencuri pandang kearahnya, sembari berharap mendapat balasan dari matanya.
Perempuan itu begitu santai, sibuk memainkan ponselnya, dengan sembunyi-sembunyi tentunya.
Terkadang, ia diam dengan pandangan menerawangnya, seperti sebuah lamunan.
Aku tertawa, bukan mengejek, hanya terpesona.

Parasnya indah, dengan rambut bergelombang yang tergurai rapi.
Matanya begitu mendamaikan, meskipun dengan tatapan dinginnya.
Oh, makin gila aku dibuatnya.

Entah, berapa kali kami pernah bertukar pandang.
Pandangan kosongnya beradu dengan pandanganku yang penuh makna.
Andai dia mampu membaca mataku, semoga saja.
Niscaya dia akan melihat, betapa telah kupenuhi hatiku dengan cinta, kepadanya.
Namun, aku tak pernah memaksa.
Aku telah lama menyadari, aku bukan siapa-siapa, mungkin hanya sebatas teman biasa.
Sedang dia terlalu istimewa, bagi insan yang nista.
Maka, biarlah jiwa dan hatiku: selamanya akan menghamba pada pesonanya.
Juga biarlah seisi ruangan ini, menjadi saksi bisu semua rasaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar