Rabu, 19 Februari 2014

Manusia Bodoh


Saat musim kemarau, kudengar banyak orang bertanya "Tuhan, segeralah tutup kemarau panjang ini, apa salah kami hingga Kau keringkan tanah dan ladang hidup kami?". Lantas waktu berlalu, kemarau pun berlalu. Dan saat musim hujan, kudengar lagi mereka bertanya "Tuhan, apa salah kami hingga Kau buat banjir terus  menggenangi rumah kami, jalan kami, serta hidup kami?". Di tanah yang lain, aku juga mendengar pertanyaan "Tuhan, apa salah kami hingga Kau tega memberikan tsunami dan letusan gunung api yang bertubi-tubi?".

Aku berfikir di dalam tawa. Ya, memang seperti itulah manusia. Takdir memang telah ditulis, namun ada beberapa takdir yang bisa saja berubah. Lihatlah mereka, seakan-akan selalu menyalahkan Tuhannya atas apa yang telah terjadi. Mereka meminta, namun menyiakannya. Mereka hanya bertanya apa salah mereka, tanpa pernah merasa bersalah. Mereka bermaksiat, merusak alam, mencuri, korupsi, bahkan ada pula yang membunuh. Mereka begitu bodoh untuk menyadari, bahwa kemarau panjang adalah seruan bagi kita untuk memperbanyak istighfar dan do'a kepada-Nya. Bahwa banjir adalah seruan bagi kita untuk menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga kesehatan lingkungan. Bahwa tsunami dan gunung meletus hanya seruan bagi kita untuk menghentikan maksiat kita, dan untuk tidak pernah sesekali melupakan ke-Agungan-Nya.

Manusia hanya terlalu bodoh. Untuk melihat dan menyadari itu semua.
Karena aku juga manusia, aku juga mereka.
Maka maafkanlah hamba, Tuhan.
Juga mereka, para manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar