Saat musim kemarau, kudengar banyak orang bertanya
"Tuhan, segeralah tutup kemarau panjang ini, apa salah kami hingga Kau
keringkan tanah dan ladang hidup kami?". Lantas waktu berlalu, kemarau pun
berlalu. Dan saat musim hujan, kudengar lagi mereka bertanya "Tuhan, apa
salah kami hingga Kau buat banjir terus
menggenangi rumah kami, jalan kami, serta hidup kami?". Di tanah
yang lain, aku juga mendengar pertanyaan "Tuhan, apa salah kami hingga Kau
tega memberikan tsunami dan letusan gunung api yang bertubi-tubi?".
Aku berfikir di dalam tawa. Ya, memang seperti itulah
manusia. Takdir memang telah ditulis, namun ada beberapa takdir yang bisa saja
berubah. Lihatlah mereka, seakan-akan selalu menyalahkan Tuhannya atas apa yang
telah terjadi. Mereka meminta, namun menyiakannya. Mereka hanya bertanya apa
salah mereka, tanpa pernah merasa bersalah. Mereka bermaksiat, merusak alam,
mencuri, korupsi, bahkan ada pula yang membunuh. Mereka begitu bodoh untuk
menyadari, bahwa kemarau panjang adalah seruan bagi kita untuk memperbanyak
istighfar dan do'a kepada-Nya. Bahwa banjir adalah seruan bagi kita untuk
menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga kesehatan
lingkungan. Bahwa tsunami dan gunung meletus hanya seruan bagi kita untuk
menghentikan maksiat kita, dan untuk tidak pernah sesekali melupakan
ke-Agungan-Nya.
Manusia hanya terlalu bodoh. Untuk melihat dan menyadari itu
semua.
Karena aku juga manusia, aku juga mereka.
Maka maafkanlah hamba, Tuhan.
Juga mereka, para manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar