Malam
selalu jadi sepanjang ini tanpa hadirmu. Padahal, kamu adalah sosok yang paling
nyata yang aku lamunkan. Tak benar-benar nyata, tapi cukup terasa ada. Barangkali,
aku satu-satunya orang yang dapat merasakan eksistensimu tanpa harus kamu ada.
Sedihnya,
hanya merasakan kamu ada tak cukup membuatku mampu mengikis malam dan waktu. Detik
dan menit sudah berjalan seperti bulan dan tahun. Waktu terasa berputar teramat
sangat lambat. Bahkan aku dapat merasakan tiap denyutan jantungku yang sudah
seperti orang sekarat saja, seperti sudah tak ingin berdetak lagi. Sedihnya
lagi, bersamaan dengan waktu yang sengaja berjalan tiarap, aku menyadari bahwa kamu
tidak di sini, tidak di sisi. Bahwa aku kehilangan bentuk nyatamu, sepanjang
waktu. Barangkali, aku satu-satunya orang yang tak (pernah) mampu membuat kamu
benar-benar nyata, benar-benar ada, bukan hanya sekedar rasa.
Aku
dipaksa untuk menyelami kesedihanku sendiri, tanpa tabung oksigen, tanpa
pelampung dan tanpa sekoci. Untuk orang yang tak bisa berenang sepertiku, yang
terlahir bukan sebagai manusia amfibi ataupun sebagai Poseidon, tentunya dengan
mudahnya aku akan tenggelam. Semakin tenggelam hingga harus menelan air keruh
dari kesedihanku sendiri. Sampai akhirnya aku sampai pada dasar dari lautanku dan
tak ada kuasa atasku untuk berenang ke permukaan. Eksistensiku terkurung di
sana, lautan menyedihkan yang aku terka dan aku ciptakan sendiri itu, dimensi
yang (mungkin) tak akan dapat kamu temukan. Menyebalkan rasanya terkurung dalam
dunia yang kita ciptakan keberadaannya sendiri.
Harapanku
tinggallah satu, seseorang datang dan rela bersusah payah menahan nafasnya
untuk menyelam dan menyeretku dari sana atau mati saja sekalian, daripada
tersiksa perih seperti itu secara perlahan. Dalam nafasku yang menggelembung ke
permukaan, kuselipkan doa pada setiapnya, dan kamu lah ketidakmungkinan yang
senantiasa aku semogakan. Dan pertanyaanku pun hanya satu, akankah kamu datang?
Semoga saja. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar