Aku mencintai segala keindahanmu.
Begitu pula aku mencintai segala kekuranganmu.
Orang menyebut itu sebuah ketulusan.
Aku menyebutnya sebuah kebutaan.
Karena aku memandang kekuranganmu sebagai sebuah keindahan.
Sejujurnya, aku sama sekali tak menemukan adanya kekurangan pada dirimu.
Sepertinya, aku telah dibutakan.
Selama ini, aku memberi yang aku ada.
Dan berbuat yang aku bisa.
Dan telah lama aku menghambakan diri pada kecantikanmu.
Selayaknya seorang budak.
Aku tak mengharapkan apa - apa selain cintamu.
Meski aku tahu bahwa tak mungkin kau akan memberikan cintamu itu.
Lalu, aku bercerita perihal rindu pada sang waktu.
Aku bagai sebuah muara, dan kau adalah laut, sedang rindu adalah air.
Aku adalah apa yang dialiri rindu, dan kau adalah tujuan dari segala rinduku.
Dia tertawa, aku ikut tertawa, lebih keras.
Mungkin dia pikir aku gila.
Tapi jika aku memang benar telah gila.
Kamu adalah salah satu dari penyebabnya.
Beberapa waktu lalu, kau berbicara perihal ketulusan padaku.
Sedang aku sendiri, masih tak tahu menahu tentang hal itu.
Tentang apa itu, tentang bagaimana seseorang bisa dikatakan tulus.
Selama ini aku selalu tersesat, saat mencoba mencari tahu arti dari sebuah ketulusan.
Aku telah disesatkan, oleh rindu dan segala sendu yang mengikutinya.
Tapi ada satu hal yang kutahu pasti. Bahwa.
Selama ini, aku mencintaimu.
Hanya itu? Ya hanya itu yang aku tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar