Aku menghabiskan waktu senja ini dengan beberapa batang rokok. Yang makin lama makin terasa sesak saat kuhisap. Entah ini hanya aku yang terlalu menikmati luka, atau jantungku memang sudah terlalu sesak dengan semua luka ini. Diwaktu yang lalu, aku pernah hidup dalam indahnya sebuah rasa. Aku juga pernah hidup dalam manisnya sebuah pengorbanan. Begitulah cinta, datang membawa sejuta rasa indah. Lalu pergi meninggalkan luka pada tempat yang pernah disinggahinya. Waktu sudah berjalan begitu lama sejak cinta pergi. Namun luka yang ditinggalkannya masih berdiam didasar hatiku. Menusuk lebih dalam.
Aku mohon ampun kepada Tuhan. Karena dulu aku pernah hidup dengan memenuhi hati dan pikiranku dengan bayangmu. Hingga membuatku lupa pada semua kebaikan-Nya. Sepertinya Tuhan hanya mengujiku dengan kehadiranmu. Aku pernah mendengar orang berkata, bahwa Tuhan tidak akan menguji hambanya diluar kemampuan hamba tersebut. Dulu, dulu sekali, aku sangat percaya pada hal itu. Berbeda dengan kali ini, aku menyerah. Aku sudah berusaha melangkah sejauh yang aku mampu. Sampai kakiku sudah tak sanggup lagi untuk berdiri, namun masih belum kulihat akhir dari jalan ini.
Aku benci untuk mengakui semua ini, bahwa aku pernah mencintaimu. Bahwa aku pernah bingung untuk bagaimana memulai percakapan denganmu. Bahwa aku pernah bercucur keringat dipenuhi rasa cemas menunggu balasan chattingmu sambil berpikir keras untuk topik apa yang akan aku bicarakan denganmu selanjutnya. Bahwa aku pernah selalu memikirkanmu kapanpun dan dimanapun aku berada. Bahwa aku juga pernah berminggu-minggu selalu memimpikanmu. Bahwa aku juga pernah serasa hampir mati karena rindu terlalu mencekik aku. Aku benci mengakui itu semua. Tapi, sampai detik yang baru saja berlalu, aku masih begitu mengharapkan cinta darimu.
Sejak pertama kali aku merasakan getaran rasa ini, sedikitpun aku tak pernah mampu untuk mengerti. Untuk mengerti mengapa aku harus mencintaimu? Mengapa tidak kepada yang lain saja? Mengapa harus ada rindu jika setelahnya hanya ada sendu? Aku masih tak mengerti.
Aku bagaikan rumput, dan kamu adalah api, sedang cinta adalah hujannya. Jadi disaat kamu membakar habis seluruh diriku, bahkan rasaku. Cinta menghujaniku dan membuat rasa ini tumbuh kembali, menjadi lebih lebat dan lebih hijau. Begitulah seterusnya yang selama ini kurasakan. Semoga saja semua ini segera berakhir. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar