Rabu, 19 Maret 2014

Keteraturan

Aku telah banyak belajar mendengar, agar aku bisa menjadi tempat terbaik bagi keluh kesahmu.
Hingga membuatku lupa, bagaimana untuk bercerita.
Kamu telah banyak bercerita, namun kamu lupa untuk belajar mendengar.
Aku mendengarmu dengan sangat jelas, namun kamu tak mampu mendengar yang sama denganku.
Aku pikir itu sebuah keteraturan alam.
Ternyata aku salah memahami konsep keteraturan.
Kita hanya saling melengkapi di satu, tak di semua, sisi.
Aku tak berhenti, aku tak menyerah.
Satu-satunya hal yang masih bisa ku ingat jelas ialah menulis.
Maka aku menulis puisi - puisi ini.
Agar aku bisa bercerita segala rasaku, juga agar kamu bisa membacanya, lalu mengerti maksudnya, tanpa harus mendengar.
Tak cukup susah kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar