Minggu, 04 Mei 2014

Kita, Aku, dan Kamu

Malam masih belum begitu larut. Namun aku sudah terlalu larut dalam kesedihanku.
Tak ada lagi yang mampu mengerti.
Tak ada lagi yang perlu dibagi. Selain pada Tuhan, juga pada secangkir kopi.
Dari ketanpaanmu, dan dari kesenderianku. Kutemukan persamaan antara air dan api. Keduanya jadi terasa sama, hanya hambar.
Kutemukan juga persamaan antara hitam dan putih. Keduanya jadi sama kelabunya di mataku.
Dari pergumulanku dengan Tuhan, merah senja, sunyi malam, dan secangkir kopi. Juga bayangmu yang seringkali menyeringai di balik hujan. Banyak ilusi yang akhirnyaterungkap. Aku jadi mengerti bahwa 'Kita' sebenarnya tak pernah ada. Selama ini 'Kita' nampak begitu dekat. Namun sebenarnya 'Kita' tak pernah sedekat itu. Ada sebuah kamuflase di sana. Ilusi telah dimainkan, dan 'Kita' telah terperangkap. Mungkin lebih tepat jika aku menyebutnya, bahwa 'Aku' lah yang terperangkap. Karena sekali saja 'Kamu' tak pernah berada di sana.
Sama sekali tak pernah ada. 'Kamu' lah yang dimainkan ilusi. Mungkin juga, 'Kamu' lah ilusi itu sendiri. Mungkin saja. Iya, mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar