Sabtu, 20 Juni 2015

Tuhan, Terima Kasih

Sesaat, mata kami berdua tetiba bertemu. Di saat yang sama, bumi seakan tak punya poros lagi untuk berputar, benar-benar berhenti, pada satu kehendak, pada mata indahnya. Aku seperti dilarang memandang bagian lain dari wajah nan elok itu, selain hanya pada matanya. Benar saja, pada matanya, aku disuguhi paket pemandangan semesta lengkap beserta galaksinya. Yang tak ada hanyalah bumi, sebab sedang kami pijaki untuk bertatap muka dan bertatap mata.

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari terlewati. Dan demi satuan waktu apapun, pijar di matanya tak sedikitpun memadam. Aku suka memandang matanya berlama-lama. Cahaya di matanya itu, iya, belum ada kata yang dapat merangkumnya, lebih tepatnya mungkin belum diciptakan kata yang mewakili segala keindahan itu. Ada semacam keteduhan di mata itu. Gelap di langit-langit hatiku tak butuh banyak bintang, tak butuh bulan untuk jadi penerang, hanya dua mata itu dan seluruh dirinya. Kedua mata itu tak hanya menerangi tapi juga menggenapi.

Di hari-hari sebelumnya, aku adalah raga tanpa kehendak. Aku adalah rasa tanpa ada pemiliknya. Kamu tahu perahu yang tak karam tapi tak ada tempat yang pas untuk melabuhkannya? Ya, seperti itulah aku, dulu. Diombang-ambing ombak dengan berjuta hal memabukkan di permukaan. Kamu tahu burung gereja yang di sebuah kota yang tak memiliki gereja? Ya, seperti itulah aku, dulu. Hinggap sejenak sebuah atap lalu kembali terbang di udara, merasakan angin yang itu-itu saja hingga terkadang mencoba melawan arah mata angin. Dasar burung gereja bodoh!

Hingga pada waktunya, kita dipertemukan. Aku ingat kali pertama bertemu dengannya. Langit, angin bahkan burung-burung yang terbang pada hari itu. Aku tahu dengan baik. Hidupku takkan pernah sama. Aku adalah burung gereja yang menemukan gerejanya. Aku adalah perahu yang menemukan pelabuhannya. Aku adalah rasa yang dimiliki olehmu. Aku adalah raga yang penuh kehendak untuk menjadi satu-satunya dan segala hal yang kamu miliki.

Aku berterima kasih kepada Tuhan atas segala hal yang telah dikehendaki-Nya, terutama dipertemukan dengannya. Aku berterima kasih kepada bulan dan bintang-bintang yang telah menjadi terang pada malam-malam sebelumnya. Karena dia, perempuan itu, kedua matanya itu, jauh lebih cukup untuk menjadi satu-satunya terang yang ingin selalu aku pandang. Aku tidak tahu harus menggambarkan hadirnya di hidupku seperti apalagi. Karena demi apapun, dia melebihi apapun. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar