Mencoba melupakanmu dan berakhir dengan lupa pada diri sendiri.
Entah yang mana yang lebih buruk, tak dapat kurasakan perbedaannya.
Bukankah aku adalah kamu dan kamu adalah aku?
Ketika kamu benar-benar pergi waktu itu, tidakkah seluruhku juga pergi membarengimu?
Tidak, beberapa pecahan bagian kecil diriku masih menetap di dalamku.
Dan akibatnya, eksistensiku tak lagi diakui.
Diakuikah sebuah inti atom jika hanya berisi proton tanpa ada neutron?
Dan aku pun teramat tahu, melupakanmu berarti melupakan diriku sendiri.
Namun ada secercah harap di sana.
Jika ternyata dengan lupa aku akan dapat membentuk kembali, memperbaharui, dan mensistem ulang diriku?
Bukankah aku akan menjadi seseorang yang baru?
Dan bagaimana jika ternyata yang terjadi malah sebaliknya?
Mengapa masih bertanya?
Bukankah peluang terbesar yang akan dilakukan seseorang yang tengah melupa adalah kembali mengingat?
Dan jika ternyata ketika itu aku lebih memilih mengingat daripada memperbaharui, berarti aku akan kembali terisi olehmu dan pecahan diriku, lagi.
Bagaimana? Sudah berulang kali kukatakan, ini perjudian hati yang taruhannya sangat besar.
Tak tanggung-tanggung, yang dipertaruhkan adalah segala rasa.
Masih tertarikkah aku mengulanginya? Masih.
Entah yang mana yang lebih buruk, tak dapat kurasakan perbedaannya.
Bukankah aku adalah kamu dan kamu adalah aku?
Ketika kamu benar-benar pergi waktu itu, tidakkah seluruhku juga pergi membarengimu?
Tidak, beberapa pecahan bagian kecil diriku masih menetap di dalamku.
Dan akibatnya, eksistensiku tak lagi diakui.
Diakuikah sebuah inti atom jika hanya berisi proton tanpa ada neutron?
Dan aku pun teramat tahu, melupakanmu berarti melupakan diriku sendiri.
Namun ada secercah harap di sana.
Jika ternyata dengan lupa aku akan dapat membentuk kembali, memperbaharui, dan mensistem ulang diriku?
Bukankah aku akan menjadi seseorang yang baru?
Dan bagaimana jika ternyata yang terjadi malah sebaliknya?
Mengapa masih bertanya?
Bukankah peluang terbesar yang akan dilakukan seseorang yang tengah melupa adalah kembali mengingat?
Dan jika ternyata ketika itu aku lebih memilih mengingat daripada memperbaharui, berarti aku akan kembali terisi olehmu dan pecahan diriku, lagi.
Bagaimana? Sudah berulang kali kukatakan, ini perjudian hati yang taruhannya sangat besar.
Tak tanggung-tanggung, yang dipertaruhkan adalah segala rasa.
Masih tertarikkah aku mengulanginya? Masih.
terinspirasi oleh @sebuahego
Tidak ada komentar:
Posting Komentar