Aku tak begitu ingat kapan kamu pergi, menghilang begitu saja dari peredaran duniaku.
Kamu tahu aku pelupa.
Dan untuk urusan yang satu itu, aku sengaja tak mengingatnya.
Biar saja. Aku menikmati lupaku.
Satu hal yang mampu kuingat pasti.
Jauh sebelum duniaku tak mampu lagi melacak kepergianmu, aku telah menyelipkan sebuah peta pada ransel merah jambu yang tak pernah absen menemani petualanganmu.
Kelak peta itu akan menjadi satu-satunya penunjuk jalan untukmu kembali.
Untuk pulang pada pelukan yang tepat.
Aku mengenalmu sebagai seorang petualang sejati.
Pengejar mimpi yang paling gigih.
Jauh sebelum tiba waktumu untuk benar-benar pergi, aku sudah menyadari bahwa hal sedemikian itu akan terjadi.
Aku menyiapkan diri dan hati untuk menyambutmu pergi.
Dan dalam persiapanku yang masih setengah jalan.
Kamu pergi, menghilang, lenyap dari peredaran semestaku.
Tanpa satupun kalimat perpisahan.
Bahkan tak ada peluk-tangis layaknya sebuah perpisahan.
Tak ada juga lambaian tangan sederhana yang menandakanmu siap untuk bertualang.
Atau setidaknya ucapan basa-basi "aku akan pergi, sementara" atau "aku akan kembali. Tunggulah".
Tak ada. Satupun tak ada.
Aku ambruk. Aku remuk.
Hancur sudah semua persiapanku yang sia-sia, ternyata.
Selama kamu menghilang, aku belajar bagaimana cara menunggu yang baik.
Aku belajar bagaimana cara menantimu tanpa harus mencari penggantimu.
Kamu pernah berkata bahwa akan ada pelangi setelah hujan.
Kamu percaya sepenuhnya bahwa akan ada cahaya setelah gelap.
Akan ada bahagia setelah pedih.
Kamu percaya sepenuhnya pada semua itu.
Dan di antara segala jenis akan yang tak lagi kamu percaya, aku akan ada. Akan kau temukan aku menyambutmu di ujung lelahmu. Memberimu senyum usang yang akan selalu kau rindukan kehangatannya.
Memelukmu begitu lembut dan berbisik 'Ayo pulang. Kubuatkan secangkir coklat panas kesukaanmu'.
Bagaimana, kekasih?
Sudah cukup lelahkah kamu untuk pulang?
Kemari. Mari pulang, bersamaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar